KESEHATAN & FARMASI

Mitokondria: Pembangkit Energi Sel yang Menentukan Kesehatan Tubuh Kita

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
October 21, 2026 • 5 min read
Mitokondria: Pembangkit Energi Sel yang Menentukan Kesehatan Tubuh Kita
Photo by Unsplash

"Mitokondria adalah pembangkit energi sel yang berperan penting dalam kesehatan tubuh. Kenali fungsinya, dampak gangguannya, dan cara menjaga kesehatan..."

Mitokondria: Pembangkit Energi Sel yang Menentukan Kesehatan Tubuh Kita

Mengapa Kesehatan Berawal dari Sel?

      Setiap detik, triliunan sel dalam tubuh manusia bekerja tanpa henti. Jantung terus berdetak, otak mengolah informasi, otot bergerak, dan berbagai organ menjalankan fungsinya. Semua aktivitas tersebut membutuhkan energi. Namun, pernahkah kita bertanya dari mana energi yang digunakan oleh sel-sel tubuh berasal? Salah satu jawabannya terdapat pada organel kecil di dalam sel yang disebut mitokondria. Organel ini sering dijuluki powerhouse of the cell atau pembangkit energi sel karena berperan penting dalam menghasilkan energi yang diperlukan untuk berbagai aktivitas kehidupan.

      Menariknya, mitokondria tidak hanya berfungsi menghasilkan energi. Organel ini juga terlibat dalam pengaturan metabolisme, komunikasi antarsel, dan mekanisme pertahanan terhadap kerusakan sel. Berbagai penelitian menemukan hubungan antara perubahan fungsi mitokondria dan diabetes tipe 2, obesitas, penyakit kardiovaskular, serta gangguan neurodegeneratif. Hubungan ini tidak selalu berarti bahwa gangguan mitokondria merupakan penyebab tunggal penyakit tersebut [1,2]. Memahami mitokondria berarti memahami salah satu fondasi penting kesehatan tubuh pada tingkat sel.

Mitokondria: Pembangkit Energi di Dalam Sel

      Mitokondria merupakan organel yang terdapat dalam sebagian besar sel manusia. Jumlahnya berbeda-beda, bergantung pada jenis dan kebutuhan energi sel. Sel otot jantung, misalnya, memiliki banyak mitokondria karena membutuhkan energi secara terus-menerus untuk mempertahankan kontraksi jantung.

      Secara struktural, mitokondria memiliki dua membran, yaitu membran luar dan membran dalam. Membran dalam membentuk lipatan-lipatan yang disebut cristae. Lipatan tersebut memperluas permukaan tempat berlangsungnya proses pembentukan energi. Bagian terdalam mitokondria disebut matriks, yang mengandung berbagai enzim metabolisme. Keunikan lainnya adalah mitokondria memiliki materi genetik sendiri yang disebut mitochondrial DNA (mtDNA). Meskipun demikian, sebagian besar protein yang diperlukan mitokondria tetap dikodekan oleh DNA dalam inti sel [1].

      Selain menghasilkan energi, mitokondria berperan dalam metabolisme karbohidrat dan lemak, pengaturan kadar kalsium di dalam sel, serta apoptosis atau kematian sel terprogram. Apoptosis merupakan mekanisme alami untuk menghilangkan sel yang sudah tidak diperlukan atau mengalami kerusakan tertentu. Dengan demikian, mitokondria bukan sekadar mesin penghasil energi, melainkan bagian penting dari sistem pengaturan kehidupan sel.

Bagaimana Mitokondria Menghasilkan Energi?

      Energi yang digunakan sel terutama tersedia dalam bentuk adenosine triphosphate (ATP). Molekul ini sering disebut sebagai mata uang energi sel karena menyediakan energi untuk kontraksi otot, transportasi zat melalui membran, dan pembentukan berbagai molekul penting. Untuk menghasilkan ATP, tubuh memanfaatkan zat gizi dari makanan, terutama karbohidrat dan lemak. Karbohidrat dapat dipecah menjadi glukosa, sedangkan lemak menghasilkan asam lemak yang dapat digunakan sebagai sumber energi.

      Pembentukan ATP dari glukosa dalam kondisi aerobik melibatkan beberapa tahap yang saling berkaitan. Glikolisis berlangsung di sitosol, sedangkan oksidasi piruvat, siklus asam sitrat, dan fosforilasi oksidatif berkaitan erat dengan mitokondria.

1.     Glikolisis. Proses ini berlangsung di sitoplasma, yaitu bagian sel di luar organel. Glukosa dipecah menjadi piruvat, menghasilkan sejumlah kecil ATP dan molekul pembawa elektron.

2.     Oksidasi piruvat dan siklus Krebs (siklus asam sitrat). Piruvat diubah menjadi asetil-KoA oleh kompleks piruvat dehidrogenase di matriks mitokondria. Asetil-KoA selanjutnya memasuki siklus Krebs yang menghasilkan NADH, FADH₂, dan GTP (atau ATP ekuivalen).

3.     Rantai transpor elektron dan fosforilasi oksidatif. Elektron dari NADH dan FADH₂ dialirkan melalui serangkaian protein pada membran dalam mitokondria. Energi dari proses tersebut digunakan untuk membentuk gradien proton yang kemudian dimanfaatkan enzim ATP sintase untuk menghasilkan ATP [2].

      Oksigen berperan sebagai akseptor elektron terakhir pada kompleks IV rantai transpor elektron; bersama proton, oksigen direduksi menjadi air. Selain glukosa, asam lemak juga dapat dioksidasi melalui beta-oksidasi untuk menghasilkan asetil-KoA dan pembawa electron [2]. Secara sederhana, zat gizi dapat dianalogikan sebagai bahan bakar, mitokondria sebagai pembangkit listrik, dan ATP sebagai energi siap pakai. Melalui mekanisme inilah sebagian besar ATP dalam sel yang melakukan respirasi aerobik dihasilkan.

Ketika Pembangkit Energi Sel Mengalami Gangguan

      Seperti mesin lainnya, mitokondria dapat mengalami gangguan fungsi. Kondisi tersebut dikenal sebagai disfungsi mitokondria, yaitu keadaan ketika satu atau beberapa fungsi mitokondria tidak berjalan sebagaimana mestinya. Gangguan tersebut dapat berupa penurunan kemampuan menghasilkan ATP, perubahan metabolisme zat gizi, gangguan pengaturan kalsium, atau ketidakseimbangan produksi molekul reaktif.

      Salah satu kelompok zat yang berkaitan dengan aktivitas mitokondria ialah reactive oxygen species (ROS), yakni spesies kimia reaktif turunan oksigen, seperti anion superoksida dan hidrogen peroksida. ROS tidak hanya berasal dari mitokondria, tetapi juga dari sumber seluler lainnya [3]. Dalam jumlah dan lokasi yang terkontrol, ROS memiliki fungsi penting sebagai molekul pensinyalan sel. Namun, apabila pembentukan oksidan berlebihan atau sistem pengendalian antioksidan tidak mampu mempertahankan keseimbangan, dapat terjadi stres oksidatif.

      Stres oksidatif berpotensi merusak protein, lipid membran, dan DNA. Kerusakan tersebut juga dapat memengaruhi mitokondria sehingga mengganggu fungsi metabolisme energi [3]. Selain itu, kerusakan mitokondria dapat mengaktifkan jalur inflamasi tertentu. Sebaliknya, inflamasi berkepanjangan juga dapat memperburuk fungsi mitokondria. Hubungan ini memperlihatkan bahwa disfungsi mitokondria, stres oksidatif, dan inflamasi kronis dapat saling memengaruhi, meskipun mekanismenya berbeda menurut jenis sel dan kondisi penyakit.

Apa yang Menyebabkan Fungsi Mitokondria Terganggu?

      Gangguan fungsi mitokondria dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam tubuh maupun lingkungan. Faktor-faktor itu antara lain:

1.     Faktor genetik merupakan salah satu penyebab yang telah diketahui. Mutasi pada DNA mitokondria atau DNA inti dapat menyebabkan penyakit mitokondria primer. Penyakit ini relatif jarang ditemukan dan dapat memengaruhi organ yang membutuhkan energi tinggi, seperti otot, otak, dan jantung [1].

2.     Proses penuaan juga dapat memengaruhi fungsi mitokondria. Seiring bertambahnya usia, kemampuan sel mempertahankan kualitas mitokondria dapat mengalami perubahan. Salah satu mekanisme pemeliharaan tersebut adalah mitofagi, yaitu proses pembersihan mitokondria yang rusak agar tidak mengganggu fungsi sel [4].

3.     Pola makan yang tidak seimbang, terutama kelebihan asupan energi secara berkepanjangan, dapat menyebabkan penumpukan lemak pada jaringan tertentu. Kondisi tersebut dapat disertai perubahan metabolisme dan fungsi mitokondria.

4.     Kurangnya aktivitas fisik juga berpengaruh. Otot yang jarang digunakan dapat mengalami penurunan kapasitas metabolisme oksidatif. Sebaliknya, olahraga teratur merangsang adaptasi mitokondria sehingga otot lebih efisien dalam menggunakan energi [5].

5.     Faktor lain adalah gangguan tidur dan ritme sirkadian. Bukti eksperimental menunjukkan keterkaitan antara ritme biologis, metabolisme, dan fungsi mitokondria; namun, besarnya dampak gangguan tidur terhadap fungsi mitokondria pada manusia dalam kehidupan sehari-hari belum dapat disimpulkan secara sederhana.

6.     Selain itu, paparan alkohol berlebihan, bahan toksik tertentu, serta beberapa obat dapat menyebabkan gangguan mitokondria. Namun, efek tersebut bergantung pada jenis zat, dosis, lama paparan, dan kondisi individu.

Dengan demikian, kesehatan mitokondria dipengaruhi oleh interaksi faktor genetik, usia, lingkungan, dan kebiasaan hidup.

Hubungan Disfungsi Mitokondria dengan Penyakit Kronis

      Penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi mitokondria ditemukan pada berbagai penyakit kronis. Namun, penting dipahami bahwa disfungsi mitokondria tidak selalu menjadi penyebab utama penyakit. Dalam sejumlah kondisi, gangguan tersebut dapat menjadi penyebab yang berkontribusi, konsekuensi penyakit, atau keduanya.

      Resistensi insulin merupakan salah satu kondisi yang banyak diteliti. Insulin membantu sel menggunakan dan menyimpan glukosa. Pada sebagian individu dengan resistensi insulin ditemukan perubahan kapasitas oksidatif mitokondria dan metabolisme lemak; namun, temuan antarpopulasi dan jaringan tidak selalu konsisten. Penumpukan metabolit lipid tertentu dapat mengganggu jalur pensinyalan insulin. Meskipun demikian, hubungan antara disfungsi mitokondria dan resistensi insulin bersifat kompleks serta tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung [6].

      Pada diabetes melitus tipe 2, gangguan metabolisme energi dapat berkaitan dengan resistensi insulin dan penurunan fungsi sel beta pankreas. Mitokondria berperan penting dalam proses sekresi insulin yang dipicu oleh glukosa. Sebaliknya, hiperglikemia berkepanjangan juga dapat memperburuk fungsi mitokondria.

      Pada obesitas, terutama yang disertai penumpukan lemak visceral, dapat terjadi perubahan metabolisme jaringan lemak dan otot. Kondisi ini sering berkaitan dengan inflamasi tingkat rendah dan gangguan sensitivitas insulin. Namun, tidak semua individu dengan obesitas mengalami gangguan metabolisme dengan tingkat keparahan yang sama.

      Mitokondria juga penting bagi kesehatan sistem saraf. Sel saraf membutuhkan energi untuk mempertahankan aktivitas listrik dan komunikasi antarsel. Gangguan fungsi mitokondria merupakan salah satu mekanisme yang diteliti pada penyakit Alzheimer dan Parkinson. Akan tetapi, kedua penyakit tersebut memiliki penyebab multifaktorial, sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa disfungsi mitokondria merupakan satu-satunya penyebab [1].

      Pada penyakit kardiovaskular, mitokondria berperan penting karena otot jantung membutuhkan ATP secara terus-menerus. Gangguan metabolisme energi, perubahan pengaturan kalsium, dan stres oksidatif dapat berkontribusi terhadap cedera sel jantung dalam kondisi tertentu.

      Dalam praktik klinis, istilah “disfungsi mitokondria” tidak dapat ditegakkan hanya dari keluhan lelah, sulit berkonsentrasi, atau hasil tes kebugaran umum. Penyakit mitokondria primer memerlukan evaluasi klinis dan, bila diindikasikan, pemeriksaan genetik atau pemeriksaan penunjang khusus. Adapun perubahan fungsi mitokondria pada penyakit metabolik merupakan bidang penelitian yang kompleks, bukan diagnosis tunggal yang dapat disimpulkan dari satu gejala.

        Berbagai temuan tersebut memperlihatkan pentingnya mitokondria dalam kesehatan metabolik. Namun, keberadaan disfungsi mitokondria pada suatu penyakit tidak otomatis membuktikan bahwa memperbaiki mitokondria saja akan menyembuhkan penyakit tersebut.

Bagaimana Menjaga Kesehatan Mitokondria?

      Meskipun fungsi mitokondria dipengaruhi banyak faktor, terdapat sejumlah kebiasaan hidup yang dapat mendukung kesehatan metabolik dan adaptasi mitokondria, yaitu:

1.     Aktivitas fisik teratur merupakan salah satu intervensi yang paling banyak diteliti. Latihan aerobik, seperti berjalan cepat, bersepeda, dan berenang, dapat meningkatkan kapasitas oksidatif otot. Latihan kekuatan juga bermanfaat untuk mempertahankan massa otot dan fungsi metabolik. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga merangsang pembentukan serta pemeliharaan mitokondria, terutama pada otot rangka [5]. Menurut pedoman WHO, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat 75–150 menit per minggu, atau kombinasi setara. Latihan penguatan otot dianjurkan setidaknya dua hari per minggu; jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi Kesehatan [7].

2.     Pola makan bergizi seimbang juga penting. Konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan sumber protein berkualitas membantu menyediakan zat gizi yang diperlukan tubuh. Sebaliknya, kelebihan asupan energi berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik.

3.     Tidur yang cukup dan teratur membantu mempertahankan pengaturan metabolisme. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam.

4.     Kebiasaan lain yang bermanfaat adalah tidak merokok, menghindari konsumsi alkohol berlebihan, serta mengendalikan tekanan darah, kadar glukosa, dan profil lipid.

      Perlu diperhatikan bahwa klaim produk atau suplemen sebagai “peningkat energi mitokondria” tidak otomatis berarti manfaat klinisnya terbukti. Peningkatan suatu penanda biokimia tidak sama dengan perbaikan gejala, pencegahan penyakit, atau penurunan risiko kematian. Suplemen tertentu dapat diindikasikan pada kondisi medis khusus berdasarkan penilaian klinis, tetapi tidak menggantikan pola hidup sehat maupun terapi penyakit yang telah terdiagnosis.

Kesimpulan: Menjaga Mitokondria, Menjaga Kesehatan

      Mitokondria merupakan organel penting yang berperan dalam produksi energi dan pengaturan berbagai fungsi sel. Gangguan mitokondria dapat berkaitan dengan resistensi insulin, diabetes, obesitas, penyakit kardiovaskular, dan gangguan neurodegeneratif. Menjaga kesehatan tubuh berarti pula mendukung proses metabolisme pada tingkat sel. Aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, tidur cukup, serta pengendalian faktor risiko merupakan langkah nyata untuk menjaga kesehatan metabolik dalam jangka panjang.

Baca juga artikel: 

1.     Inflamasi Kronis: Peradangan Tersembunyi yang Perlahan Mengganggu Kesehatan

2.     Radikal Bebas dan Stres Oksidatif: Ancaman bagi Kesehatan Sel yang Sering Tidak Disadari

Daftar Pustaka

1.     Nunnari J, Suomalainen A. Mitochondria: In sickness and in health. Cell. 2012;148(6):1145–59. doi:10.1016/j.cell.2012.02.035.

2.     Spinelli JB, Haigis MC. The multifaceted contributions of mitochondria to cellular metabolism. Nat Cell Biol. 2018;20(7):745–54. doi:10.1038/s41556-018-0124-1.

3.     Murphy MP. How mitochondria produce reactive oxygen species. Biochem J. 2009;417(1):1–13. doi:10.1042/BJ20081386.

4.     Sun N, Youle RJ, Finkel T. The mitochondrial basis of aging. Mol Cell. 2016;61(5):654–66. doi:10.1016/j.molcel.2016.01.028.

5.     Hood DA, Memme JM, Oliveira AN, Triolo M. Maintenance of skeletal muscle mitochondria in health, exercise, and aging. Annu Rev Physiol. 2019;81:19–41. doi:10.1146/annurev-physiol-020518-114310.

6.     Montgomery MK, Turner N. Mitochondrial dysfunction and insulin resistance: An update. Endocr Connect. 2015;4(1):R1–R15. doi:10.1530/EC-14-0092.

7.     World Health Organization. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.