KESEHATAN & FARMASI

Makan Sedikit tetapi Mudah Gemuk, Makan Banyak tetapi Tetap Kurus: Apa yang Sebenarnya Terjadi dalam Tubuh?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
October 27, 2026 • 5 min read
Makan Sedikit tetapi Mudah Gemuk, Makan Banyak tetapi Tetap Kurus: Apa yang Sebenarnya Terjadi dalam Tubuh?
Photo by Unsplash

"Mengapa ada orang yang makan sedikit tetapi mudah gemuk, sementara yang lain tetap kurus meski makan banyak? Temukan penjelasan ilmiah tentang metabol..."

Makan Sedikit tetapi Mudah Gemuk, Makan Banyak tetapi Tetap Kurus: Apa yang Sebenarnya Terjadi dalam Tubuh?

Mengapa Ada Orang yang Mudah Gemuk dan Ada yang Tetap Kurus?

      Pernahkah Anda merasa sudah membatasi makan, tetapi berat badan tetap mudah naik? Sementara itu, teman Anda tampak bebas menikmati berbagai makanan, bahkan sering makan dalam porsi besar, tetapi berat badannya relatif stabil. Fenomena ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah ada orang yang memang ditakdirkan mudah gemuk, sedangkan orang lain memiliki tubuh yang sulit menyimpan lemak?

      Penjelasan yang paling sering terdengar adalah perbedaan metabolisme. Orang yang mudah gemuk dianggap memiliki metabolisme lambat, sedangkan mereka yang tetap kurus diyakini memiliki metabolisme cepat. Namun, benarkah perbedaan berat badan dapat dijelaskan sesederhana itu?

      Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pengaturan berat badan melibatkan interaksi kompleks antara keseimbangan energi, metabolisme, aktivitas fisik, faktor genetik, serta hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons makanan dan perubahan asupan energi. Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat lebih jauh bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi.

Keseimbangan Energi: Prinsip Dasar yang Mengatur Berat Badan

      Tubuh manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan kehidupan, mulai dari bernapas, memompa darah, menjaga suhu tubuh, hingga melakukan aktivitas sehari-hari. Energi tersebut diperoleh dari makanan dan minuman, terutama melalui karbohidrat, lemak, dan protein. Ketika energi yang diserap tubuh secara terus-menerus melebihi energi yang dikeluarkan, kelebihannya dapat disimpan, terutama dalam bentuk lemak tubuh.

      Sebaliknya, apabila energi yang dikeluarkan melebihi energi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu, tubuh akan menggunakan cadangan energinya. Prinsip ini dikenal sebagai energy balance atau keseimbangan energi. Namun, menurut Hall dan kolega, pengaturan berat badan merupakan sistem dinamis karena perubahan asupan energi dapat memengaruhi pengeluaran energi dan komposisi tubuh [1].

      Persoalannya, kebutuhan energi setiap orang tidak sama. Dua individu yang mengonsumsi makanan dengan jumlah kalori serupa belum tentu memiliki pengeluaran energi yang sama karena perbedaan ukuran tubuh, komposisi tubuh, aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis. Selain itu, perkiraan seseorang mengenai banyaknya makanan yang dikonsumsi belum tentu menggambarkan total asupan energi selama beberapa hari atau minggu.

      Karena itu, pernyataan bahwa seseorang makan banyak tetapi tidak pernah gemuk perlu dipahami secara hati-hati. Porsi besar pada satu waktu makan tidak selalu berarti total asupan energi hariannya berlebihan. Demikian pula, makan dalam porsi kecil belum tentu menghasilkan asupan energi rendah apabila makanan tersebut memiliki kepadatan energi tinggi.

Metabolisme Cepat dan Lambat: Benarkah Menentukan Berat Badan?

      Istilah metabolisme cepat dan metabolisme lambat sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan berat badan. Salah satu ukuran penting adalah basal metabolic rate (BMR), yaitu pengeluaran energi untuk mempertahankan fungsi dasar tubuh dalam kondisi pengukuran yang sangat terstandar (antara lain saat istirahat, setelah puasa, dan dalam lingkungan bersuhu nyaman). BMR berbeda dari resting metabolic rate (RMR), yang diukur dalam kondisi istirahat dengan persyaratan lebih longgar; keduanya tidak sama dengan total pengeluaran energi harian. Energi ini digunakan antara lain untuk aktivitas jantung, pernapasan, fungsi otak, dan pemeliharaan sel.

      BMR dipengaruhi oleh ukuran tubuh, massa bebas lemak, usia, jenis kelamin, faktor genetik, dan kondisi hormonal. Massa bebas lemak, yang mencakup otot serta berbagai organ tubuh, merupakan salah satu penentu penting kebutuhan energi saat istirahat. Karena itu, individu dengan komposisi tubuh berbeda dapat memiliki kebutuhan energi yang berbeda meskipun berat badannya relatif sama [1].

      Menariknya, anggapan bahwa semua orang gemuk memiliki metabolisme lambat sebenarnya tidak tepat. Individu dengan tubuh lebih besar umumnya membutuhkan energi istirahat absolut lebih tinggi dibandingkan individu bertubuh kecil karena jaringan tubuh yang harus dipertahankan juga lebih banyak. Penilaian apakah metabolisme seseorang lebih cepat atau lambat perlu mempertimbangkan ukuran dan komposisi tubuh, bukan hanya angka berat badan.

      Dengan demikian, metabolisme memang berkontribusi terhadap perbedaan kebutuhan energi, tetapi bukan satu-satunya penentu berat badan. Orang kurus belum tentu memiliki metabolisme sangat cepat, sebagaimana orang dengan obesitas belum tentu mempunyai metabolisme lambat. Faktor lain, terutama aktivitas fisik dan regulasi asupan makanan, juga perlu diperhitungkan.

NEAT: Pengeluaran Energi yang Sering Tidak Disadari

      Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang sulit duduk diam, sering berjalan, atau banyak bergerak ketika bekerja? Aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi tetap membutuhkan energi. Dalam ilmu metabolisme, pengeluaran energi untuk aktivitas fisik selain olahraga terencana, tidur, dan makan dikenal sebagai non-exercise activity thermogenesis (NEAT).

      NEAT mencakup berbagai kegiatan sehari-hari, seperti berjalan menuju tempat kerja, berdiri, membersihkan rumah, naik tangga, hingga gerakan spontan ketika duduk. Besarnya NEAT dapat berbeda antarindividu karena dipengaruhi pekerjaan, kebiasaan, lingkungan, dan respons tubuh terhadap perubahan asupan makanan. Perbedaan ini dapat menjadi salah satu alasan mengapa dua orang yang sama-sama jarang berolahraga memiliki pengeluaran energi harian berbeda.

      Penelitian klasik Levine dan kolega yang diterbitkan dalam Science pada 1999 memberikan gambaran menarik mengenai fenomena tersebut. Dalam penelitian terhadap 16 orang dewasa yang menerima tambahan energi 1.000 kilokalori per hari selama delapan minggu, penambahan lemak tubuh bervariasi antarindividu. Peningkatan NEAT berkorelasi terbalik dengan penambahan lemak, tetapi studi kecil ini tidak membuktikan bahwa NEAT merupakan satu-satunya penyebab perbedaan respons [2].

      Meskipun demikian, penelitian tersebut melibatkan jumlah peserta yang kecil sehingga hasilnya tidak boleh dianggap berlaku sama pada semua orang. NEAT juga bukan mekanisme yang dapat sepenuhnya menghilangkan dampak kelebihan asupan energi. Temuan ini terutama menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari yang sering tidak diperhatikan dapat memberikan kontribusi penting terhadap keseimbangan energi.

Faktor Genetik: Apakah Ada Orang yang Memang Lebih Mudah Gemuk?

      Selain metabolisme dan aktivitas fisik, faktor genetik turut memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami kenaikan berat badan. Penelitian pada keluarga dan anak kembar menunjukkan bahwa variasi genetik berkontribusi terhadap perbedaan indeks massa tubuh serta kerentanan terhadap obesitas. Namun, besarnya kontribusi genetik dapat berbeda menurut populasi dan lingkungan tempat seseorang hidup [3].

      Salah satu gen yang banyak diteliti adalah Fat Mass and Obesity-Associated Gene (FTO), yang memiliki hubungan dengan kerentanan obesitas dan regulasi perilaku makan. Gen lain, seperti Melanocortin-4 Receptor (MC4R), berperan dalam jalur saraf yang mengatur nafsu makan dan keseimbangan energi. Gangguan tertentu pada jalur leptin–melanokortin bahkan dapat menyebabkan obesitas berat sejak usia dini, meskipun bentuk obesitas monogenik seperti ini relatif jarang.

      Menurut Loos dan Yeo, sebagian besar obesitas pada populasi umum bersifat poligenik, yaitu dipengaruhi oleh banyak varian genetik yang masing-masing memberikan kontribusi tertentu [3]. Faktor genetik tersebut berinteraksi dengan lingkungan, termasuk ketersediaan makanan tinggi energi, pola aktivitas, kebiasaan tidur, dan perilaku makan. Karena itu, dua orang yang hidup dalam lingkungan serupa dapat menunjukkan kerentanan berbeda terhadap kenaikan berat badan.

      Namun, memiliki kecenderungan genetik terhadap obesitas bukan berarti seseorang pasti akan mengalami obesitas. Genetik memengaruhi kerentanan, sedangkan lingkungan dan berbagai faktor biologis lainnya turut menentukan hasil akhirnya. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak menganggap berat badan semata-mata sebagai cerminan kemauan atau kedisiplinan seseorang.

Hormon Lapar dan Kenyang: Mengapa Ada Orang yang Cepat Lapar?

      Rasa lapar dan kenyang merupakan hasil komunikasi kompleks antara saluran pencernaan, jaringan lemak, dan otak. Sistem ini membantu tubuh menyesuaikan asupan makanan dengan kebutuhan serta kondisi cadangan energinya. Beberapa hormon penting yang terlibat adalah leptin, ghrelin, dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1).

      Leptin terutama diproduksi oleh jaringan adiposa dan berfungsi memberikan informasi mengenai cadangan energi tubuh kepada otak. Secara umum, kadar leptin meningkat seiring bertambahnya massa lemak, tetapi pada banyak individu dengan obesitas respons terhadap sinyal leptin dapat terganggu. Fenomena ini sering disebut resistensi leptin. Istilah tersebut menggambarkan berkurangnya respons biologis terhadap sinyal leptin, bukan diagnosis yang dapat ditegakkan hanya dari pemeriksaan kadar leptin darah [3].

      Berbeda dengan leptin, ghrelin terutama diproduksi di lambung dan berperan dalam meningkatkan rasa lapar. Kadar ghrelin dapat meningkat sebelum makan dan berubah setelah makanan dikonsumsi. Sementara itu, GLP-1 merupakan hormon inkretin dari usus yang meningkatkan sekresi insulin secara bergantung glukosa, turut memengaruhi rasa kenyang, dan memperlambat pengosongan lambung dalam kondisi tertentu.

      Hipotalamus dan jaringan saraf lain di otak mengintegrasikan berbagai sinyal hormonal tersebut untuk mengatur perilaku makan. Penelitian Sumithran dan kolega menunjukkan bahwa setelah penurunan berat badan, perubahan sejumlah hormon yang berkaitan dengan nafsu makan dapat bertahan hingga satu tahun pada kelompok yang diteliti [4]. Temuan ini memperlihatkan bahwa dorongan untuk makan dipengaruhi mekanisme biologis dan bukan hanya keputusan sadar seseorang.

Mengapa Respons Kenaikan Berat Badan Berbeda pada Setiap Orang?

      Setelah memahami berbagai mekanisme tersebut, pertanyaan utamanya adalah mengapa seseorang dapat mengalami kenaikan berat badan lebih besar dibandingkan orang lain. Jawabannya tidak terletak pada satu faktor, melainkan pada interaksi antara asupan energi, pengeluaran energi, faktor genetik, dan sistem pengaturan nafsu makan. Perbedaan respons tubuh terhadap kelebihan energi dapat terjadi bahkan ketika peningkatan asupan makanan diberikan secara terkontrol [2].

      Sebagian individu mungkin meningkatkan aktivitas spontan ketika memperoleh tambahan energi, sedangkan individu lain menunjukkan perubahan yang lebih kecil. Ada pula orang yang secara tidak sadar mengurangi porsi makan berikutnya setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Sebaliknya, sebagian orang mungkin memiliki dorongan makan lebih tinggi atau lebih sulit mencapai rasa kenyang.

      Tubuh juga dapat menyesuaikan pengeluaran energi ketika asupan makanan atau berat badan berubah. Sebagian penurunan pengeluaran energi setelah berat badan turun dapat dijelaskan oleh tubuh yang lebih kecil; sebagian lainnya dapat berupa termogenesis adaptif, yaitu perubahan pengeluaran energi yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh perubahan ukuran dan komposisi tubuh.  Namun, besarnya respons tidak sama pada semua individu, dan mekanisme adaptasi tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal perbedaan berat badan [1,5].

      Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketepatan pengukuran asupan makanan. Seseorang yang terlihat makan banyak saat berkumpul bersama teman mungkin memiliki asupan lebih rendah pada waktu lainnya. Sebaliknya, makanan dalam porsi kecil dapat mengandung energi tinggi karena banyak mengandung lemak atau gula tambahan.

      Oleh karena itu, pengamatan sesaat terhadap kebiasaan makan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki metabolisme sangat cepat atau lambat. Penilaian yang lebih akurat membutuhkan informasi mengenai pola makan dalam jangka waktu tertentu, aktivitas fisik, komposisi tubuh, obat-obatan yang digunakan, serta kondisi kesehatan, misalnya gangguan tiroid. Bila perubahan berat badan terjadi tanpa sebab yang jelas atau disertai keluhan lain, diperlukan evaluasi tenaga kesehatan. Pada akhirnya, variasi berat badan merupakan hasil interaksi berbagai mekanisme yang bekerja secara bersamaan.

Kesimpulan

      Berat badan manusia diatur melalui keseimbangan energi yang melibatkan berbagai proses biologis dan perilaku. BMR, aktivitas fisik sehari-hari atau NEAT, faktor genetik, serta hormon pengatur rasa lapar dan kenyang dapat memengaruhi bagaimana tubuh menggunakan dan menyimpan energi. Perbedaan mekanisme tersebut membantu menjelaskan mengapa respons kenaikan berat badan tidak selalu sama pada setiap individu.

      Orang yang tetap kurus meskipun tampak makan banyak belum tentu memiliki metabolisme cepat, sedangkan orang yang mudah gemuk belum tentu mempunyai metabolisme lambat. Kebiasaan makan yang terlihat serupa juga tidak selalu mencerminkan asupan dan pengeluaran energi yang benar-benar sama. Memahami kompleksitas ini membantu kita menghindari penilaian sederhana terhadap berat badan serta menyadari pentingnya pendekatan kesehatan yang mempertimbangkan kondisi setiap individu. Perbedaan berat badan bukan ukuran tunggal kesehatan maupun bukti kuat-lemahnya kemauan seseorang.

Baca juga artikel: Mengapa Berat Badan Sulit Dikendalikan? Peran Hormon, Adaptasi Metabolik, Mikrobiota Usus, dan Obat

Daftar Pustaka

1.     Hall KD, Heymsfield SB, Kemnitz JW, Klein S, Schoeller DA, Speakman JR. Energy balance and its components: implications for body weight regulation. Am J Clin Nutr. 2012;95(4):989–994. doi:10.3945/ajcn.112.036350.

2.     Levine JA, Eberhardt NL, Jensen MD. Role of nonexercise activity thermogenesis in resistance to fat gain in humans. Science. 1999;283(5399):212–214. doi:10.1126/science.283.5399.212.

3.     Loos RJF, Yeo GSH. The genetics of obesity: from discovery to biology. Nat Rev Genet. 2022;23(2):120–133. doi:10.1038/s41576-021-00414-z.

4.     Sumithran P, Prendergast LA, Delbridge E, Purcell K, Shulkes A, Kriketos A, et al. Long-term persistence of hormonal adaptations to weight loss. N Engl J Med. 2011;365(17):1597–1604. doi:10.1056/NEJMoa1105816.

5.     Müller MJ, Bosy-Westphal A. Adaptive thermogenesis with weight loss in humans. Obesity (Silver Spring). 2013;21(2):218–228. doi:10.1002/oby.20027.