KESEHATAN & FARMASI

Inflamasi Kronis: Peradangan Tersembunyi yang Perlahan Mengganggu Kesehatan

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
October 21, 2026 • 5 min read
Inflamasi Kronis: Peradangan Tersembunyi yang Perlahan Mengganggu Kesehatan
Photo by Unsplash

"Inflamasi kronis dapat berlangsung tanpa gejala jelas dan berkaitan dengan obesitas, diabetes, serta penyakit jantung. Kenali penyebab dan cara mengur..."

Inflamasi Kronis: Peradangan Tersembunyi yang Perlahan Mengganggu Kesehatan

Ketika Peradangan Terjadi Tanpa Disadari

      Ketika kulit terluka, kita sering melihat kemerahan, pembengkakan, atau merasakan nyeri. Kondisi tersebut merupakan tanda bahwa tubuh sedang menjalankan mekanisme pertahanannya. Namun, tahukah Anda bahwa proses peradangan juga dapat berlangsung di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala yang jelas? Peradangan atau inflamasi sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap infeksi, cedera, maupun gangguan jaringan. Dalam keadaan normal, proses ini membantu tubuh melawan penyebab penyakit dan memperbaiki jaringan yang rusak.

      Masalah muncul ketika respons inflamasi berlangsung terus-menerus dan tidak terkendali. Kondisi tersebut dikenal sebagai inflamasi kronis. Salah satu bentuknya adalah inflamasi kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation), yang sering ditemukan pada gangguan metabolik seperti obesitas, resistensi insulin, dan diabetes melitus tipe 2 [1]. Memahami inflamasi kronis penting karena proses biologis ini dapat berlangsung tanpa disadari dan berkontribusi terhadap perkembangan berbagai penyakit kronis.

Mengenal Inflamasi: Sistem Pertahanan Alami Tubuh

      Inflamasi adalah respons biologis yang melibatkan sistem imun, pembuluh darah, dan berbagai mediator kimia ketika tubuh menghadapi infeksi, cedera, atau kerusakan jaringan. Tujuan utama inflamasi adalah menghilangkan penyebab gangguan, membersihkan jaringan yang rusak, serta memulai proses penyembuhan. Dengan demikian, inflamasi sebenarnya merupakan mekanisme perlindungan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia [2].

      Ketika jaringan mengalami cedera, sel-sel tubuh mengenali adanya kerusakan dan melepaskan molekul pemberi sinyal. Sinyal tersebut menyebabkan perubahan pada pembuluh darah sehingga sel-sel imun dapat bergerak menuju lokasi yang mengalami gangguan. Sel imun kemudian membantu menghancurkan mikroorganisme, membersihkan sel yang rusak, dan mendukung perbaikan jaringan. Setelah penyebab gangguan berhasil dikendalikan, tubuh mengaktifkan mekanisme untuk mengakhiri respons inflamasi. Proses penghentian inflamasi ini disebut resolution of inflammation atau resolusi inflamasi.

      Apabila berlangsung dengan baik, jaringan dapat kembali menjalankan fungsinya. Sebaliknya, jika rangsangan inflamasi menetap atau mekanisme resolusi terganggu, peradangan dapat berlangsung berkepanjangan. Dengan demikian, inflamasi bukanlah sesuatu yang selalu merugikan. Masalah kesehatan justru dapat muncul ketika respons tersebut berlebihan, tidak tepat sasaran, atau gagal mereda.

Inflamasi Akut dan Kronis: Apa Perbedaannya?

      Berdasarkan karakteristik dan lamanya proses berlangsung, inflamasi secara umum dibedakan menjadi inflamasi akut dan inflamasi kronis. Inflamasi akut merupakan respons yang muncul relatif cepat setelah terjadi infeksi atau cedera. Gejalanya dapat berupa kemerahan, panas, pembengkakan, nyeri, dan gangguan fungsi jaringan. Pada tahap awal, neutrofil merupakan salah satu jenis sel imun yang sering berperan dominan. Apabila penyebab gangguan berhasil diatasi, respons inflamasi biasanya mereda dan proses penyembuhan berlangsung.

      Sebaliknya, inflamasi kronis merupakan respons peradangan yang berlangsung berkepanjangan, mulai dari beberapa minggu hingga bertahun-tahun. Proses ini sering melibatkan makrofag, limfosit, dan berbagai mediator inflamasi yang dapat menyebabkan perubahan struktur maupun fungsi jaringan [2]. Inflamasi kronis tidak selalu merupakan kelanjutan inflamasi akut. Pada beberapa penyakit, inflamasi kronis dapat berkembang secara bertahap tanpa didahului gejala akut yang jelas.

      Salah satu bentuk yang penting dalam kesehatan metabolik adalah inflamasi kronis tingkat rendah. Kondisi ini ditandai oleh aktivitas inflamasi yang relatif ringan tetapi menetap, dan tidak selalu menimbulkan tanda peradangan yang mudah dikenali. Istilah “tersembunyi” bukan berarti semua inflamasi kronis tanpa gejala atau dapat didiagnosis hanya dari rasa lelah dan pegal. Inflamasi jenis inilah yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan obesitas, resistensi insulin, dan penyakit metabolik lainnya [1,3].

Mengapa Peradangan Bisa Berlangsung Terus-Menerus?

      Inflamasi kronis dapat terjadi ketika tubuh terus-menerus menghadapi rangsangan yang memicu respons imun atau ketika mekanisme penghentian inflamasi tidak berjalan secara efektif. Beberapa infeksi kronis, penyakit autoimun, serta paparan bahan iritan atau polutan dalam jangka panjang dapat mempertahankan aktivitas inflamasi.

      Pada penyakit autoimun, misalnya, sistem imun secara keliru menyerang komponen tubuh sendiri sehingga respons inflamasi dapat berlangsung berkepanjangan. Namun, inflamasi kronis juga dapat muncul tanpa infeksi atau penyakit autoimun. Gangguan metabolisme merupakan salah satu kondisi yang dapat memicu inflamasi tingkat rendah.

      Penumpukan lemak berlebihan, gangguan metabolisme glukosa, serta perubahan fungsi sel dapat mengaktifkan berbagai jalur inflamasi. Proses ini sering disebut metaflammation, yaitu respons inflamasi terkait kelebihan nutrisi dan disfungsi metabolik, bukan sinonim untuk semua jenis inflamasi kronis [3]. Selain itu, stres oksidatif dan gangguan fungsi organel sel dapat memperkuat aktivitas inflamasi. Sebaliknya, inflamasi yang menetap juga dapat meningkatkan stres seluler sehingga terbentuk hubungan yang saling memengaruhi.

      Faktor gaya hidup, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, gangguan tidur berkepanjangan, dan merokok, juga dapat berkontribusi terhadap kondisi metabolik yang berkaitan dengan inflamasi. Dengan demikian, inflamasi kronis dapat muncul akibat interaksi berbagai faktor biologis, lingkungan, dan kebiasaan hidup.

Peran Jaringan Lemak, Sistem Imun, dan Mediator Inflamasi

      Selama ini, jaringan lemak sering dianggap hanya sebagai tempat penyimpanan energi. Padahal, jaringan lemak atau jaringan adiposa merupakan organ metabolik dan endokrin yang aktif. Jaringan ini menghasilkan berbagai molekul pensinyalan yang disebut adipokin serta berinteraksi dengan sel-sel sistem imun.

      Pada kondisi obesitas, terutama ketika terjadi penumpukan lemak visceral atau lemak di sekitar organ dalam, sel-sel lemak dapat mengalami pembesaran. Kondisi tersebut dapat disertai stres seluler, gangguan fungsi jaringan, dan perubahan aktivitas sel imun. Makrofag, yaitu salah satu jenis sel imun, dapat mengalami peningkatan jumlah atau perubahan aktivitas dalam jaringan adiposa. Sel-sel tersebut bersama sel adiposa menghasilkan berbagai mediator inflamasi yang memengaruhi metabolisme tubuh.[3,4].  Beberapa mediator penting adalah tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), interleukin-6 (IL-6), dan interleukin-1 beta (IL-1β).

      TNF-α merupakan sitokin yang dapat mengaktifkan jalur inflamasi dan mengganggu pensinyalan insulin dalam kondisi tertentu. IL-1β juga berperan dalam berbagai proses inflamasi yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Sementara itu, IL-6 memiliki fungsi lebih kompleks. Sitokin ini dapat menunjukkan efek proinflamasi maupun antiinflamasi, bergantung pada sumber, jaringan, dan kondisi fisiologis.

      Inflamasi juga berkaitan erat dengan stres oksidatif. Aktivasi sel imun dapat meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS), sedangkan stres oksidatif dapat memengaruhi jalur inflamasi. Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa jaringan lemak bukan sekadar penyimpan energi, melainkan bagian dari sistem pengaturan metabolisme dan respons imun tubuh.

Hubungan Inflamasi Kronis dengan Berbagai Penyakit

      Inflamasi kronis tingkat rendah merupakan salah satu mekanisme biologis yang banyak diteliti dalam perkembangan penyakit metabolik. Hubungan epidemiologis antara penanda inflamasi dan penyakit tidak selalu membuktikan bahwa inflamasi merupakan penyebab tunggal.

      Pada obesitas, terutama yang disertai peningkatan lemak visceral, perubahan fungsi jaringan adiposa dapat meningkatkan aktivitas inflamasi. Kondisi ini dapat memperburuk gangguan metabolisme glukosa dan lemak [3,4]. Pada resistensi insulin, mediator inflamasi tertentu dapat mengganggu jalur pensinyalan insulin. Akibatnya, sel otot, hati, dan jaringan lemak dapat mengalami penurunan respons terhadap insulin sehingga pengaturan glukosa darah menjadi kurang efektif.

      Inflamasi kronis juga berperan dalam patofisiologi diabetes melitus tipe 2. Selain berkaitan dengan resistensi insulin, aktivitas inflamasi tertentu dapat memengaruhi fungsi sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Sebaliknya, hiperglikemia dan gangguan metabolisme juga dapat memperkuat proses inflamasi [3].

      Hubungan penting lainnya ditemukan pada aterosklerosis, yaitu penyakit pembuluh darah yang ditandai pembentukan plak pada dinding arteri. Proses aterosklerosis melibatkan penumpukan partikel lipoprotein, terutama LDL, dalam dinding pembuluh darah. Partikel tersebut dapat mengalami perubahan dan memicu respons inflamasi. Makrofag kemudian menyerap lipid dan membentuk foam cells atau sel busa. Akumulasi sel busa bersama berbagai komponen jaringan berkontribusi terhadap pembentukan plak aterosklerosis.

      Inflamasi juga berperan dalam perkembangan dan ketidakstabilan plak. Pada kondisi tertentu, pecahnya plak dapat memicu pembentukan trombus yang menyebabkan serangan jantung atau stroke [5]. Selain itu, inflamasi kronis berkaitan dengan penyakit hati berlemak terkait disfungsi metabolik atau metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD). Pada sebagian pasien, gangguan metabolisme lemak dan respons inflamasi dapat berkontribusi terhadap perkembangan kerusakan hati.

      Meskipun demikian, perlu dipahami bahwa inflamasi kronis bukan satu-satunya penyebab penyakit-penyakit tersebut. Hubungan antara inflamasi dan gangguan metabolik sering berlangsung dua arah serta melibatkan faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup.

Apakah Inflamasi Kronis Bisa Diketahui dari Tes Darah?

      Tidak ada satu pemeriksaan yang dapat memastikan seluruh bentuk inflamasi kronis tingkat rendah. CRP dan hs-CRP merupakan penanda yang dapat meningkat akibat berbagai keadaan, termasuk infeksi akut, cedera, dan penyakit inflamasi. Pemeriksaan tersebut tidak dapat menentukan lokasi atau penyebab peradangan secara mandiri. Bila ada keluhan menetap atau faktor risiko penyakit, evaluasi sebaiknya berfokus pada kondisi klinis dan penyakit yang dicurigai, bukan mengejar angka “inflamasi” tanpa indikasi.

Bagaimana Mengurangi Risiko Inflamasi Kronis?

      Menjaga keseimbangan respons inflamasi tidak berarti menghilangkan seluruh proses peradangan. Tujuan utamanya adalah mendukung fungsi sistem imun dan mengendalikan faktor risiko yang dapat mempertahankan inflamasi kronis. Faktor-faktor itu dapat berupa:

1.     Pola makan sehat merupakan salah satu langkah penting. Konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, serta sumber lemak tidak jenuh dapat membantu menjaga kesehatan metabolik. Pola makan Mediterania merupakan salah satu pola makan yang banyak diteliti terkait kesehatan kardiometabolik dan penanda inflamasi. Perubahan penanda inflamasi tidak dengan sendirinya menjamin pencegahan penyakit pada setiap individu. Sebaliknya, konsumsi berlebihan makanan tinggi gula tambahan, lemak jenuh, dan energi dapat meningkatkan risiko gangguan metabolic [6].

2.     Aktivitas fisik teratur juga berperan penting. Olahraga membantu memperbaiki sensitivitas insulin, mempertahankan massa otot, dan mengatur berbagai proses metabolisme. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik teratur dapat memengaruhi jalur inflamasi serta mendukung regulasi sistem imun [7].  Menurut pedoman WHO, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang 150–300 menit per minggu atau intensitas berat 75–150 menit per minggu, serta latihan penguatan otot sedikitnya dua hari per minggu, sesuai kondisi kesehatannya [8].

3.     Tidur yang cukup dan teratur membantu mempertahankan keseimbangan metabolisme dan fungsi sistem imun. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam.

4.     Pengendalian berat badan juga penting, terutama bagi individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Penurunan berat badan yang berkelanjutan dapat memperbaiki sejumlah faktor risiko metabolik dan beberapa penanda inflamasi.

5.     Selain itu, tidak merokok, menghindari paparan asap rokok, mengelola stres psikologis, serta mengendalikan penyakit kronis merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.

Apakah suplemen antiinflamasi diperlukan?

      Tidak semua produk yang diklaim memiliki efek antiinflamasi terbukti mampu mencegah penyakit kronis. Pemeriksaan seperti C-reactive protein (CRP) atau high-sensitivity CRP (hs-CRP) dapat menunjukkan aktivitas inflamasi, tetapi bersifat tidak spesifik; hasilnya harus ditafsirkan bersama gejala, riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan indikasi klinis, bukan sebagai tes tunggal untuk menyatakan seseorang mengalami “inflamasi tersembunyi”. Hasil penelitian laboratorium tidak selalu menunjukkan manfaat klinis yang sama pada manusia.

      Demikian pula, obat antiinflamasi, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) maupun kortikosteroid, tidak dianjurkan digunakan secara rutin hanya untuk mengatasi dugaan inflamasi kronis tanpa diagnosis dan indikasi medis yang jelas. Penggunaannya dapat menimbulkan efek samping dan harus mengikuti indikasi serta penilaian manfaat-risiko. Pola hidup sehat dan pengendalian faktor risiko tetap merupakan pendekatan utama untuk mendukung kesehatan metabolik.

Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan Respons Peradangan

      Inflamasi merupakan bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh. Tanpa respons inflamasi, tubuh akan kesulitan melawan infeksi dan memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, ketika berlangsung terus-menerus dan tidak terkendali, inflamasi dapat berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan, termasuk obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Menjaga keseimbangan sistem imun dan metabolisme melalui pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, serta pengendalian faktor risiko merupakan langkah penting untuk mempertahankan kesehatan jangka panjang.

Baca juga artikel: 

1.     Mitokondria: Pembangkit Energi Sel yang Menentukan Kesehatan Tubuh Kita

2.     Radikal Bebas dan Stres Oksidatif: Ancaman bagi Kesehatan Sel yang Sering Tidak Disadari

Daftar Pustaka

1.     Furman D, Campisi J, Verdin E, Carrera-Bastos P, Targ S, Franceschi C, et al. Chronic inflammation in the etiology of disease across the life span. Nat Med. 2019;25(12):1822–32. doi:10.1038/s41591-019-0675-0.

2.     Medzhitov R. Origin and physiological roles of inflammation. Nature. 2008;454(7203):428–35. doi:10.1038/nature07201.

3.     Hotamisligil GS. Inflammation and metabolic disorders. Nature. 2006;444(7121):860–7. doi:10.1038/nature05485.

4.     Saltiel AR, Olefsky JM. Inflammatory mechanisms linking obesity and metabolic disease. J Clin Invest. 2017;127(1):1–4. doi:10.1172/JCI92035.

5.     Libby P. Inflammation in atherosclerosis. Nature. 2002;420(6917):868–74. doi:10.1038/nature01323.

6.     Calder PC, Ahluwalia N, Brouns F, Buetler T, Clement K, Cunningham K, et al. Dietary factors and low-grade inflammation in relation to overweight and obesity. Br J Nutr. 2011;106 Suppl 3:S5–78. doi:10.1017/S0007114511005460.

7.     Gleeson M, Bishop NC, Stensel DJ, Lindley MR, Mastana SS, Nimmo MA. The anti-inflammatory effects of exercise: mechanisms and implications for the prevention and treatment of disease. Nat Rev Immunol. 2011;11(9):607–15. doi:10.1038/nri3041.

8.     World Health Organization. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: World Health Organization; 2020.