"Mengapa tubuh terasa lebih nyaman setelah kerokan? Temukan penjelasan ilmiah tentang manfaat kerokan, mikrosirkulasi darah, dan bukti medis di balikny..."
Mengapa Tubuh Terasa Lebih Baik Setelah Kerokan? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kerokan, Tradisi yang Bertahan di Tengah Pengobatan Modern
Kerokan merupakan salah satu praktik pengobatan tradisional yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Ketika seseorang mengalami keluhan yang biasa disebut masuk angin, seperti meriang, pegal-pegal, sakit kepala, atau tubuh terasa tidak nyaman, kerokan sering menjadi pilihan untuk membantu meredakan keluhan tersebut. Menariknya, banyak orang mengaku merasa lebih ringan, hangat, dan nyaman setelah dikerok.
Pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa tubuh terasa lebih baik setelah kerokan? Apakah kerokan benar-benar menghasilkan perubahan fisiologis yang bermanfaat, atau perasaan nyaman tersebut terutama dipengaruhi oleh sugesti atau yang “mengerok”…hehe? Dalam literatur kedokteran internasional, praktik yang menyerupai kerokan dikenal sebagai gua sha atau scraping therapy. Praktik ini telah menjadi objek sejumlah penelitian mengenai perubahan mikrosirkulasi dan pengaruhnya terhadap nyeri otot.
Namun, pengalaman empiris perlu dibedakan dari bukti ilmiah. Seseorang yang merasa lebih baik setelah kerokan belum tentu mengalami penyembuhan penyakit yang mendasari keluhannya. Untuk memahami fenomena tersebut, kita perlu melihat bagaimana kerokan memengaruhi kulit, pembuluh darah, dan sistem saraf.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Tubuh Ketika Dikerok?
Kerokan dilakukan dengan menggesek permukaan kulit menggunakan benda bertepi tumpul, seperti uang logam atau alat khusus, biasanya dengan bantuan minyak untuk mengurangi gesekan langsung. Tindakan ini memberikan rangsangan mekanis berulang pada kulit dan jaringan superfisial. Secara fisiologis, kulit bukan sekadar lapisan pelindung tubuh. Kulit mengandung pembuluh darah kecil, ujung saraf sensorik, serta berbagai reseptor yang mampu merespons sentuhan, tekanan, suhu, dan rangsangan yang berpotensi merusak jaringan.
Ketika kulit dikerok, gesekan dapat menimbulkan pelebaran pembuluh darah superfisial sehingga aliran darah lokal meningkat. Respons ini dapat menyebabkan kulit tampak kemerahan, yang dikenal sebagai eritema. Apabila tekanan cukup kuat, pembuluh darah kecil dapat mengalami kerusakan sehingga sebagian darah keluar ke jaringan sekitarnya. Kondisi tersebut dapat menghasilkan petekie, yaitu bercak perdarahan kecil, atau ekimosis berupa memar yang lebih luas.
Selain respons pembuluh darah, gesekan juga merangsang ujung saraf sensorik. Rangsangan tersebut diteruskan melalui jalur saraf menuju sistem saraf pusat dan mungkin memengaruhi persepsi nyeri atau ketidaknyamanan. Dengan demikian, perubahan warna kulit setelah kerokan merupakan respons fisiologis terhadap rangsangan mekanis, bukan bukti bahwa angin atau racun keluar dari tubuh [1].
Pengaruh Kerokan terhadap Mikrosirkulasi Darah
Salah satu penjelasan ilmiah yang paling menarik mengenai kerokan berkaitan dengan mikrosirkulasi. Mikrosirkulasi merupakan aliran darah melalui pembuluh darah berukuran kecil, termasuk arteriol, kapiler, dan venula. Sistem ini berperan penting dalam pertukaran oksigen, nutrisi, dan zat sisa metabolisme antara darah dan jaringan.
Penelitian Nielsen dan koleganya yang diterbitkan dalam jurnal Explore pada 2007 memberikan informasi mengenai pengaruh gua sha terhadap mikrosirkulasi kulit [1]. Penelitian (pendahuluan) tersebut melibatkan 11 sukarelawan sehat. Para peneliti menggunakan teknologi Laser Doppler Imaging untuk mengukur perubahan perfusi darah pada jaringan superfisial setelah tindakan gua sha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perfusi darah lokal meningkat sekitar empat kali dibandingkan kondisi awal segera setelah tindakan (pengukuran pada area kulit yang diteliti). Peningkatan mikrosirkulasi juga masih teramati selama periode pengukuran hingga 25 menit setelah tindakan. Selain perubahan mikrosirkulasi, para partisipan melaporkan berkurangnya keluhan nyeri otot setelah perlakuan.
Temuan di atas menunjukkan bahwa kerokan dapat menghasilkan perubahan fisiologis yang terukur, khususnya peningkatan aliran darah lokal pada kulit. Peningkatan perfusi tersebut merupakan penjelasan yang masuk akal bagi sensasi hangat, tetapi kontribusinya terhadap kenyamanan dan perbaikan gejala belum dapat dipastikan secara kausal.
Namun, hasil penelitian ini harus ditafsirkan secara hati-hati. Jumlah partisipannya hanya 11 orang, tanpa kelompok kontrol terpisah; desain ini tidak dapat memastikan manfaat klinis atau hubungan sebab-akibat terhadap perbaikan nyeri. Selain itu, peningkatan mikrosirkulasi kulit tidak berarti bahwa kerokan meningkatkan peredaran darah seluruh tubuh atau mempercepat penyembuhan penyakit. Dengan demikian, penelitian tersebut memberikan bukti (awal) adanya respons vaskular lokal, tetapi belum membuktikan efektivitas kerokan sebagai pengobatan penyakit tertentu.
Mengapa Kerokan Mungkin Mengurangi Nyeri dan Pegal-Pegal?
Selain memengaruhi pembuluh darah, kerokan mungkin juga memengaruhi persepsi nyeri melalui sistem saraf. Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang kompleks. Intensitas nyeri tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi jaringan, tetapi juga oleh proses pengolahan sinyal pada sistem saraf pusat, pengalaman sebelumnya, dan keadaan psikologis seseorang.
Salah satu teori yang membantu menjelaskan fenomena tersebut adalah gate control theory of pain, yang diperkenalkan oleh Melzack dan Wall pada 1965 [2]. Menurut konsep ini, aktivitas saraf sensorik tertentu dapat memodulasi transmisi sinyal nyeri pada tingkat sumsum tulang belakang.
Sebagai contoh, ketika seseorang terbentur, ia sering secara spontan menggosok bagian tubuh yang sakit. Rangsangan sentuhan tersebut dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. Pada kerokan, gesekan berulang juga memberikan rangsangan mekanis pada kulit. Secara teoritis, rangsangan ini mungkin memengaruhi pemrosesan sinyal sensorik sehingga keluhan pegal atau nyeri terasa berkurang.
Namun, terdapat perbedaan penting antara menggosok kulit secara ringan dan melakukan kerokan yang menghasilkan petekie. Kerokan dapat melibatkan rangsangan yang cukup kuat hingga menyebabkan cedera pembuluh darah kecil. Oleh karena itu, gate control theory sebaiknya dipahami sebagai salah satu kemungkinan penjelasan, bukan mekanisme kerja kerokan yang telah terbukti secara definitif. Karena tekanan yang berlebihan justru dapat menimbulkan nyeri, iritasi, dan kerusakan jaringan.
Peran Relaksasi, Sugesti, dan Placebo Effect
Mengapa sebagian orang merasa sangat nyaman setelah kerokan, bahkan ketika keluhan sebelumnya cukup mengganggu? Jawabannya mungkin tidak hanya berkaitan dengan perubahan fisik pada kulit, tetapi juga melibatkan faktor psikologis dan respons sistem saraf.
Dalam praktik sehari-hari, kerokan sering dilakukan ketika seseorang sedang beristirahat. Tindakan tersebut biasanya disertai perhatian, sentuhan, dan keyakinan bahwa tubuh akan terasa lebih baik setelahnya. Pengalaman positif sebelumnya juga dapat membentuk ekspektasi. Seseorang yang berulang kali merasa nyaman setelah kerokan mungkin memiliki keyakinan kuat bahwa tindakan tersebut akan kembali membantu.
Fenomena di atas berkaitan dengan konsep placebo effect atau efek placebo. Finniss dan koleganya menjelaskan bahwa efek placebo melibatkan mekanisme biologis dan psikologis yang kompleks. Ekspektasi, pengalaman belajar, serta konteks pemberian terapi dapat memengaruhi persepsi gejala melalui proses neurobiologis [3]. Penting dipahami bahwa efek placebo bukan berarti keluhan pasien hanya merupakan khayalan. Efek placebo dalam dunia farmasi benar adanya dan sering sebagai pembanding dalam uji klinik, terutama fase II. Selain itu, keberadaan efek placebo juga telah dibahas dan diceritakan secara Panjang lebar dalam bukunya Dr. Joe Dispenza yang berjudul: You Are the PLACEBO Menemukan Sang Penyembuh di Dalam Diri.
Perubahan persepsi nyeri atau rasa nyaman dapat benar-benar dialami, meskipun sebagian respons tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi dan konteks tindakan. Pada kerokan, respons fisiologis akibat gesekan dan efek kontekstual mungkin terjadi secara bersamaan.
Namun, penelitian yang dikutip tidak secara langsung mengukur besarnya efek placebo pada kerokan. Karena itu, kontribusi relatif antara rangsangan fisik, harapan pasien, perhatian, dan perjalanan alami gejala belum dapat ditentukan. Dengan demikian, menyatakan bahwa manfaat kerokan semata-mata disebabkan oleh sugesti juga merupakan penyederhanaan yang kurang tepat.
Apa Kata Penelitian Ilmiah tentang Manfaat Kerokan?
Penelitian mengenai kerokan atau gua sha telah dilakukan, terutama untuk mengevaluasi pengaruhnya terhadap nyeri muskuloskeletal. Selain penelitian fisiologis Nielsen dan koleganya, terdapat penelitian klinis yang membandingkan gua sha dengan pendekatan lain untuk mengatasi keluhan nyeri.
Braun dan koleganya melakukan uji klinis acak terhadap 48 pasien dengan nyeri leher kronis. Penelitian tersebut membandingkan satu sesi gua sha (24 pasien) dengan terapi panas lokal (24 pasien), dengan tindak lanjut selama tujuh hari [4]. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok gua sha mengalami perbaikan nyeri dan beberapa parameter klinis dalam pengamatan jangka pendek dibandingkan kelompok pembanding.
Temuan tersebut di atas memberikan indikasi bahwa gua sha mungkin bermanfaat untuk mengurangi nyeri leher pada kondisi tertentu. Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah subjek relatif kecil, pengamatan dilakukan dalam jangka pendek, dan pembutaan peserta (blinding) sulit diterapkan karena karakteristik tindakan mudah dikenali.
Selain itu, hasil penelitian pada pasien dengan nyeri leher kronis tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan efektivitas kerokan dalam mengatasi meriang atau penyakit infeksi. Lee dan koleganya melakukan tinjauan sistematis terhadap uji klinis mengenai penggunaan gua sha untuk nyeri muskuloskeletal [5]. Tinjauan tersebut mencakup lima uji klinis acak dan dua uji klinis terkontrol. Meskipun sebagian studi melaporkan hasil positif, penulis menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia belum cukup untuk memastikan efektivitas gua sha dalam penanganan nyeri, terutama karena kualitas metodologis penelitian rendah.
Perbedaan teknik, intensitas tekanan, kondisi pasien, dan metode pembanding juga menyulitkan interpretasi hasil penelitian. Perlu diperhatikan bahwa gua sha yang digunakan dalam penelitian internasional tidak selalu identik dengan praktik kerokan tradisional Indonesia. Dengan demikian, bukti yang tersedia menunjukkan potensi manfaat simptomatik, khususnya pada keluhan nyeri otot tertentu, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa kerokan efektif mengobati berbagai penyakit.
Mengapa Meriang Dapat Terasa Membaik Setelah Kerokan?
Dalam kehidupan sehari-hari, kerokan paling sering dikaitkan dengan keluhan masuk angin atau meriang. Namun, meriang bukan merupakan diagnosis medis yang spesifik. Istilah ini dapat menggambarkan rasa dingin, menggigil, pegal-pegal, lemas, sakit kepala, atau peningkatan suhu tubuh.
Keluhan tersebut dapat muncul akibat berbagai kondisi, termasuk kelelahan dan infeksi virus. Sebagai contoh, seseorang mengalami infeksi virus saluran pernapasan ringan yang menyebabkan pegal, meriang, dan tubuh terasa tidak nyaman. Setelah melakukan kerokan, ia beristirahat dan tidur. Keesokan harinya, keluhannya berkurang. Apakah perbaikan tersebut disebabkan oleh kerokan? Jawabannya belum dapat dipastikan.
Kerokan mungkin membantu mengurangi persepsi nyeri atau memberikan sensasi nyaman. Akan tetapi, istirahat, tidur, efek kontekstual, dan perjalanan alami penyakit juga dapat berkontribusi terhadap perbaikan. Sebagian penyakit infeksi ringan bersifat self-limiting, yaitu dapat membaik dengan sendirinya melalui respons pertahanan tubuh.
Dalam penelitian medis, hubungan waktu antara suatu tindakan dan perbaikan gejala tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, pengalaman merasa lebih baik setelah kerokan merupakan fenomena yang layak dipelajari, tetapi tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa kerokan menyembuhkan penyebab meriang.
Meredakan Gejala Tidak Sama dengan Menyembuhkan Penyakit
Dalam ilmu kedokteran dan farmasi, penting untuk membedakan terapi simptomatik dengan terapi yang ditujukan pada penyebab penyakit (kausatif). Terapi simptomatik bertujuan mengurangi keluhan, seperti nyeri, demam, atau mual. Sementara itu, terapi kausal ditujukan untuk mengatasi penyebab penyakit apabila tersedia pengobatan yang sesuai.
Sebagai contoh, parasetamol dapat membantu menurunkan demam dan mengurangi nyeri, tetapi tidak secara langsung membunuh virus penyebab influenza. Prinsip yang sama perlu digunakan ketika menilai manfaat kerokan.
Kerokan mungkin membantu mengurangi rasa pegal atau ketidaknyamanan pada sebagian orang. Namun, belum terdapat bukti klinis yang memadai bahwa kerokan mampu menghilangkan infeksi virus atau menyembuhkan penyakit penyebab demam. Karena itu, kerokan tidak boleh menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis yang diperlukan. Apabila meriang disertai demam yang menetap atau memburuk, sesak napas, penurunan kesadaran, perdarahan, atau gejala berat lainnya, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.
Catatan: anjuran kehati-hatian ini didasarkan pada risiko mekanis gesekan dan prinsip keselamatan umum; lima penelitian yang dikutip terutama menilai mekanisme dan nyeri, bukan membuktikan keamanan kerokan pada seluruh kelompok pasien.
Orang yang menggunakan obat antikoagulan, memiliki gangguan pembekuan darah, atau mudah mengalami perdarahan sebaiknya tidak melakukan kerokan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis/kesehatan. Bukti keamanan dan manfaat pada bayi, anak kecil, serta kelompok rentan masih terbatas. Kerokan tidak dianjurkan sebagai pengganti pemeriksaan medis ketika muncul tanda bahaya.
Kerokan dapat menyebabkan petekie, memar, rasa perih, atau iritasi. Hindari mengerok kulit yang luka, mengalami infeksi, atau sedang meradang; jangan menggunakan alat tajam maupun berbagi alat yang belum dibersihkan. Tekanan yang lebih kuat bukan berarti manfaat yang lebih besar.
Kesimpulan
Kerokan merupakan praktik tradisional yang dapat menghasilkan respons fisiologis nyata pada kulit. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan mikrosirkulasi lokal setelah gua sha, sementara beberapa penelitian klinis memberikan indikasi manfaat terhadap keluhan nyeri muskuloskeletal. Selain perubahan vaskular, mekanisme sensorik, relaksasi, dan efek kontekstual mungkin turut menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih nyaman setelah kerokan. Namun, bukti klinis mengenai manfaat kerokan masih terbatas, terutama untuk keluhan meriang atau masuk angin.
Kerokan tidak harus dipandang sebagai praktik yang sepenuhnya tanpa manfaat, tetapi juga tidak tepat dianggap sebagai pengobatan yang telah terbukti menyembuhkan penyakit. Memahami mekanisme fisiologis dan keterbatasan bukti ilmiahnya dapat membantu masyarakat menempatkan kerokan secara lebih rasional dalam menjaga kesehatan.
Baca Juga artikel: Apakah Kerokan Aman untuk Kesehatan? Kenali Risiko, Efek Samping, dan Mitosnya
Daftar Pustaka
1. Nielsen A, Knoblauch NTM, Dobos GJ, Michalsen A, Kaptchuk TJ. The effect of Gua Sha treatment on the microcirculation of surface tissue: a pilot study in healthy subjects. Explore (NY). 2007;3(5):456–466. doi:10.1016/j.explore.2007.06.001.
2. Melzack R, Wall PD. Pain mechanisms: a new theory. Science. 1965;150(3699):971–979. doi:10.1126/science.150.3699.971.
3. Finniss DG, Kaptchuk TJ, Miller F, Benedetti F. Biological, clinical, and ethical advances of placebo effects. Lancet. 2010;375(9715):686–695. doi:10.1016/S0140-6736(09)61706-2.
4. Braun M, Schwickert M, Nielsen A, Brunnhuber S, Dobos G, Musial F, et al. Effectiveness of traditional Chinese "gua sha" therapy in patients with chronic neck pain: a randomized controlled trial. Pain Med. 2011;12(3):362–369. doi:10.1111/j.1526-4637.2011.01053.x.
5. Lee MS, Choi TY, Kim JI, Choi SM. Using Guasha to treat musculoskeletal pain: a systematic review of controlled clinical trials. Chin Med. 2010;5:5. doi:10.1186/1749-8546-5-5.