Informasi Obat Baru

Baxdrostat: Obat Baru Hipertensi yang Menghambat Produksi Aldosteron

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
August 15, 2026 5 min read
Baxdrostat: Obat Baru Hipertensi yang Menghambat Produksi Aldosteron
Photo by Unsplash

"Baxdrostat hadir sebagai kandidat obat baru hipertensi dengan mekanisme berbeda: menghambat produksi aldosteron. Bagaimana cara kerjanya, seberapa efe..."

Baxdrostat: Obat Baru Hipertensi yang Menghambat Produksi Aldosteron

      Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memiliki pilihan terapi sangat luas. ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker (ARB), calcium channel blocker (CCB), diuretik, beta-blocker, alfa-blocker hingga antagonis reseptor mineralokortikoid telah digunakan selama bertahun-tahun. Namun, sebagian pasien tetap memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol meskipun telah menggunakan beberapa antihipertensi.

      Salah satu mekanisme yang semakin mendapat perhatian pada hipertensi yang sulit dikontrol adalah aktivitas aldosteron yang tidak sesuai. Hal ini mendorong pengembangan pendekatan farmakologis baru: bukan hanya menghambat kerja aldosteron pada reseptornya, tetapi menghambat produksi aldosteron itu sendiri. Salah satu obat yang dikembangkan dengan pendekatan tersebut adalah baxdrostat, suatu selective aldosterone synthase inhibitor (ASI). Hasil penelitian uji klinik fase II dan fase III menunjukkan obat ini mampu menurunkan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi tidak terkontrol maupun hipertensi resisten.[1,2]

Baxdrostat Termasuk Golongan Obat Apa?

      Secara farmakologis, baxdrostat merupakan aldosterone synthase inhibitor yang bekerja secara selektif terhadap enzim CYP11B2 (aldosterone synthase). Enzim mitokondrial ini terutama diekspresikan di zona glomerulosa korteks adrenal dan berperan dalam tahap akhir biosintesis aldosteron.

      Salah satu tantangan utama pengembangan obat golongan ini adalah kemiripan CYP11B2 dengan CYP11B1 (11β-hydroxylase). CYP11B1 berperan dalam biosintesis kortisol. Karena itu, penghambatan yang tidak selektif berpotensi menurunkan kortisol dan mengganggu fungsi adrenal.

Baxdrostat menarik karena dikembangkan dengan selektivitas yang tinggi terhadap CYP11B2 dibandingkan CYP11B1. Studi uji klinik fase I menunjukkan baxdrostat dapat menekan aldosteron tanpa perubahan kortisol yang bermakna.[3] Dengan demikian, selektivitas terhadap CYP11B2 merupakan salah satu karakteristik farmakologis utama baxdrostat.

Bagaimana Baxdrostat Bekerja?

      Aldosteron merupakan hormon mineralokortikoid yang berperan penting dalam homeostasis natrium, kalium, dan volume cairan. Produksinya antara lain distimulasi oleh angiotensin II dan peningkatan konsentrasi kalium. Secara sederhana:

Renin → Angiotensin I → Angiotensin II → adrenal → Aldosteron ↑

      Aldosteron kemudian berikatan dengan mineralocorticoid receptor (MR), terutama di nefron distal ginjal. Aktivasi reseptor tersebut meningkatkan reabsorpsi Na⁺ dan air sekaligus meningkatkan ekskresi K⁺. Peningkatan retensi natrium dan cairan dapat meningkatkan volume intravaskular dan tekanan darah. Baxdrostat bekerja sebelum aldosteron terbentuk dengan menghambat CYP11B2.

Baxdrostat
      ↓
CYP11B2 dihambat
      ↓
Sintesis aldosteron ↓
      ↓
Retensi Na⁺ dan air ↓
      ↓
Volume intravaskular ↓
     ↓
Tekanan darah ↓

      Mekanisme tersebut membedakan baxdrostat dengan spironolakton. Baxdrostat merupakan inhibitor enzim pembentuk aldosteron, sedangkan spironolakton merupakan antagonis reseptor tempat aldosteron bekerja.

Siapa Target Penggunaan Baxdrostat?

      Pengembangan klinis baxdrostat terutama diarahkan pada uncontrolled hypertension dan resistant hypertension. Hipertensi resisten adalah tekanan darah tetap di atas target meskipun pasien telah menggunakan tiga atau lebih antihipertensi dari kelas berbeda  dengan dosis maksimal atau maksimal yang dapat ditoleransi, termasuk diuretik. Diagnosis ini harus dilakukan setelah pseudo-resistant hypertension, termasuk ketidakpatuhan terhadap terapi, disingkirkan.[4]

      Mengapa aldosteron menjadi target yang menarik? Studi PATHWAY-2 dan studi mekanistiknya menunjukkan bahwa hipertensi resisten pada banyak pasien memiliki karakteristik salt-retaining state dan sekresi aldosteron yang tidak sesuai dapat berkontribusi terhadap kondisi tersebut.[5] Inilah salah satu alasan biologis mengapa mengurangi aktivitas aldosteron menjadi strategi menarik pada hipertensi yang sulit dikontrol.

      Namun, perlu dibedakan antara target pengembangan klinis dengan indikasi resmi obat. Status persetujuan regulator dan indikasi baxdrostat perlu diperiksa kembali ketika obat nantinya digunakan dalam praktik klinis.

Bagaimana Farmakokinetik Baxdrostat?

     Baxdrostat diberikan secara oral. Studi uji klinik fase I pada subjek sehat menunjukkan konsentrasi plasma meningkat secara relatif proporsional seiring peningkatan dosis. Konsentrasi maksimum dalam plasma (Cmax) dicapai dalam waktu sekitar 4 jam setelah pemberian.[3] Hal yang menarik adalah waktu paruh eliminasi baxdrostat yang relatif panjang, sekitar 26–31 jam. Karakteristik atau nilai t ½ yang relative Panjang tersebut mendukung penggunaan baxdrostat sekali sehari.

      Secara farmakodinamik, pemberian baxdrostat menyebabkan penurunan konsentrasi aldosteron yang bergantung pada dosis, sementara kadar kortisol relatif tidak terpengaruh. Temuan ini memperkuat bukti bahwa baxdrostat mempunyai selektivitas yang cukup baik terhadap CYP11B2.[3]

Bagi farmasis, hubungan antara karakteristik farmakokinetik dan farmakodinamik ini penting: waktu paruh yang panjang mendukung pemberian sekali sehari, sedangkan selektivitas target diharapkan memungkinkan penghambatan aldosteron tanpa mengganggu steroidogenesis adrenal secara luas.

Seberapa Efektif Baxdrostat?

     Bukti awal yang kuat berasal dari uji klinis fase II pada pasien dengan treatment-resistant hypertension. Baxdrostat menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik yang bergantung dosis. Pada kelompok dosis 2 mg, perbedaan penurunan tekanan darah sistolik dibandingkan placebo sekitar 11 mmHg setelah 12 minggu.[1]

     Temuan tersebut kemudian diuji dalam studi klinik fase III, pada pasien dengan hipertensi tidak terkontrol atau resisten. Pada minggu ke-12, tekanan darah sistolik duduk turun sekitar 14,5 mmHg dengan baxdrostat 1 mg dan 15,7 mmHg dengan 2 mg, dibandingkan sekitar 5,8 mmHg dengan placebo. Perbedaan terhadap placebo masing-masing sekitar 8,7 dan 9,8 mmHg.[2] 

      Yang perlu diingat, baxdrostat digunakan sebagai tambahan terhadap terapi antihipertensi yang telah digunakan pasien, bukan sebagai pengganti seluruh obat sebelumnya. Karena itu, data tersebut lebih tepat dibaca sebagai bukti potensi baxdrostat sebagai add-on therapy pada hipertensi yang sulit dikontrol. Mulai  Mei 2026 baxdrostat/Baxfendy telah memperoleh persetujuan FDA di AS untuk digunakan dalam terapi.

Baxdrostat vs Spironolakton: Apa Perbedaannya?

      Kedua obat sama-sama menargetkan jalur aldosteron, tetapi pada tempat yang berbeda.

image.png 106.83 KB
      Perbedaan paling mendasar dapat disederhanakan menjadi: pada Spironolakton,  aldosteron tetap diproduksi → efeknya pada MR diblok. Baxdrostat, pembentukan aldosteron → dihambat melalui CYP11B2.

     Namun, mekanisme yang lebih baru tidak berarti baxdrostat lebih baik daripada spironolakton. Pedoman ESC 2024 masih menempatkan spironolakton dosis rendah 25–50 mg/hari sebagai pilihan tambahan utama yang perlu dipertimbangkan pada hipertensi resisten.[4] Bukti PATHWAY-2 juga menunjukkan efektivitas spironolakton pada kondisi tersebut.[5]

      Lebih penting lagi, studi utama baxdrostat menggunakan placebo sebagai pembanding, bukan spironolakton secara head-to-head. Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa baxdrostat lebih efektif daripada spironolakton hanya dengan membandingkan besarnya penurunan tekanan darah dari dua penelitian yang berbeda.

Bagaimana dengan Keamanannya?

     Efek yang perlu diperhatikan pada terapi baxdrostat terutama berkaitan dengan konsekuensi penghambatan aldosteron, termasuk hiperkalemia, hiponatremia, hipotensi, serta perubahan fungsi ginjal. Karena itu, pemantauan tekanan darah, elektrolit—terutama kalium dan natrium—serta fungsi ginjal menjadi relevan, terutama pada pasien yang juga menggunakan obat lain yang memengaruhi RAAS atau homeostasis kalium.      

       Dalam praktik klinis, aspek seperti kalium serum, fungsi ginjal/eGFR, tekanan darah, serta obat lain yang memengaruhi RAAS dan kadar kalium menjadi parameter penting untuk diperhatikan. Aspek keamanan lainnya adalah kemungkinan gangguan sintesis kortisol. Namun, data fase awal menunjukkan selektivitas baxdrostat terhadap CYP11B2 cukup tinggi sehingga penekanan aldosteron dapat terjadi tanpa penurunan kortisol yang bermakna.[3]

Kesimpulan

      Baxdrostat menghadirkan pendekatan baru dalam farmakoterapi hipertensi dengan menghambat produksi aldosteron melalui CYP11B2, berbeda dari spironolakton yang memblok reseptor mineralokortikoid. Waktu paruh sekitar 26–31 jam mendukung pemberian sekali sehari, sedangkan uji fase II dan III menunjukkan penurunan tekanan darah yang bermakna pada hipertensi yang sulit dikontrol.

      Namun, baxdrostat sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti langsung spironolakton maupun antihipertensi standar lainnya. Bukti efektivitas dan keamanannya terus berkembang, sedangkan pengalaman klinis spironolakton jauh lebih luas. Karena itu, daya tarik utama baxdrostat saat ini bukan semata-mata karena merupakan “obat baru”, melainkan karena obat ini menawarkan target farmakologis baru: menghentikan aldosteron pada tahap pembentukannya.

Baca juga artikel: Ketika Obat Hipertensi Tidak Lagi Mempan: Apakah Baxdrostat Menjadi Harapan Baru?

Daftar Pustaka Utama

1.     Freeman MW, Halvorsen YD, Marshall W, et al. Phase 2 trial of baxdrostat for treatment-resistant hypertension. N Engl J Med. 2023;388(5):395-405. doi:10.1056/NEJMoa2213169. 

2.     Flack JM, Azizi M, Brown JM, et al. Efficacy and safety of baxdrostat in uncontrolled and resistant hypertension. N Engl J Med. 2025;393(14):1363-1374. doi:10.1056/NEJMoa2507109. 

3.     Freeman MW, Bond M, Murphy B, Hui J, Isaacsohn J. Results from a phase 1, randomized, double-blind, multiple ascending dose study characterizing the pharmacokinetics and demonstrating the safety and selectivity of the aldosterone synthase inhibitor baxdrostat in healthy volunteers. Hypertens Res. 2023;46(1):108-118. doi:10.1038/s41440-022-01070-4. 

4.     McEvoy JW, McCarthy CP, Bruno RM, et al. 2024 ESC Guidelines for the management of elevated blood pressure and hypertension. Eur Heart J. 2024;45(38):3912-4018. doi:10.1093/eurheartj/ehae178. 

5.     Williams B, MacDonald TM, Morant S, et al. Spironolactone versus placebo, bisoprolol, and doxazosin to determine the optimal treatment for drug-resistant hypertension (PATHWAY-2): a randomised, double-blind, crossover trial. Lancet. 2015;386(10008):2059-2068. doi:10.1016/S0140-6736(15)00257-3. 

6.     Williams B, MacDonald TM, Morant SV, et al. Endocrine and haemodynamic changes in resistant hypertension, and blood pressure responses to spironolactone or amiloride: the PATHWAY-2 mechanisms substudies. Lancet Diabetes Endocrinol. 2018;6(6):464-475. doi:10.1016/S2213-8587(18)30071-8.