KESEHATAN & FARMASI

Asam Urat Tinggi Bukan Hanya Soal Gout: Apa Hubungannya dengan Sindrom Metabolik?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
September 12, 2026 5 min read
Asam Urat Tinggi Bukan Hanya Soal Gout: Apa Hubungannya dengan Sindrom Metabolik?
Photo by Unsplash

"Asam urat tinggi tidak hanya berkaitan dengan gout dan nyeri sendi. Hiperurisemia juga sering ditemukan bersama obesitas abdominal, hipertensi, ganggu..."

Asam Urat Tinggi Bukan Hanya Soal Gout: Apa Hubungannya dengan Sindrom Metabolik?

      Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar asam urat 7,8 mg/dL. Namun, sendi tidak terasa sakit, tidak pernah bengkak mendadak, dan tidak ada riwayat serangan gout. “Kalau tidak sakit, berarti tidak masalah?” Pertanyaan menjadi lebih menarik ketika hasil pemeriksaan lainnya ikut diperhatikan. Lingkar perut bertambah, trigliserida meningkat, dan tekanan darah mulai tinggi. Apakah semuanya hanya kebetulan?

      Selama ini masyarakat sangat akrab dengan hubungan antara asam urat dan nyeri sendi. Hubungan tersebut memang benar, peningkatan kadar urat merupakan faktor penting dalam pembentukan kristal monosodium urat yang menjadi dasar penyakit gout (1).

      Namun, penelitian juga menunjukkan bahwa kadar urat yang tinggi sering ditemukan bersama obesitas abdominal, hipertensi, gangguan lipid, dan gangguan metabolisme glukosa. Dengan kata lain, hiperurisemia cukup sering berjalan berdampingan dengan sindrom metabolik (2,3). Meski demikian, kita juga perlu berhati-hati. Hubungan tersebut tidak berarti setiap orang dengan asam urat tinggi pasti mengalami sindrom metabolik, apalagi membuktikan bahwa urat merupakan penyebab tunggal sindrom metabolik.

Dari Mana Asam Urat Berasal?

      Istilah “asam urat” yang digunakan sehari-hari sebenarnya merujuk pada uric acid atau urate, produk akhir metabolisme purin pada manusia. Purin berasal dari dua sumber utama, proses metabolisme normal sel tubuh serta makanan yang mengandung purin. Dalam proses degradasinya, purin akhirnya diubah melalui beberapa tahapan menjadi hipoksantin, kemudian xantin, dan selanjutnya menjadi asam urat.

      Secara sederhana: purin → hipoksantin → xantin → asam urat.  Dua tahap terakhir melibatkan enzim xanthine oxidoreductase, yang mempunyai aktivitas xanthine oxidase. Enzim inilah yang menjadi target obat seperti allopurinol, yang menghambat pembentukan asam urat (1). Setelah terbentuk, urat harus dikeluarkan dari tubuh. Sebagian besar proses ini berkaitan dengan ginjal, sedangkan sebagian lainnya melalui saluran cerna. Karena itu, konsentrasi urat dalam darah pada dasarnya dipengaruhi oleh keseimbangan antara pembentukan urat dan pembuangannya.

      Pada banyak orang dengan hiperurisemia, masalahnya bukan semata-mata produksi asam urat yang berlebihan, tetapi juga kemampuan ekskresi urat yang berkurang (1). Jadi, kurang tepat jika asam urat sekadar disebut sebagai “racun dalam tubuh”. Urat merupakan hasil metabolisme normal. Masalah muncul ketika konsentrasinya cukup tinggi sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya deposisi kristal atau ketika hiperurisemia muncul dalam konteks kondisi kesehatan lainnya.

Hiperurisemia Tidak Sama dengan Gout

      Ini merupakan salah satu miskonsepsi paling umum. Hiperurisemia dan gout bukanlah istilah yang sama. Hiperurisemia menggambarkan keadaan ketika konsentrasi urat serum meningkat. Sementara itu, gout merupakan penyakit yang terjadi akibat deposisi kristal monosodium urat di jaringan, yang dapat menimbulkan serangan artritis akut, tofi, maupun manifestasi lainnya (1,4),  karena itu: asam urat tinggi ≠ otomatis gout.

      Dalam American College of Rheumatology (ACR) Guideline for the Management of Gout 2020, hiperurisemia asimtomatik didefinisikan dalam konteks rekomendasinya sebagai kadar serum urate ≥6,8 mg/dL tanpa riwayat serangan gout atau tofi subkutan.[4] Angka sekitar 6,8 mg/dL mempunyai dasar fisikokimia karena berada di sekitar batas kelarutan urat dalam kondisi fisiologis.   Namun, bukan berarti setiap orang dengan hasil 6,9 atau 7,0 mg/dL akan langsung mengalami gout.

      Sebaliknya, semakin tinggi kadar urat dan semakin lama paparan terjadi, risiko pembentukan kristal dan gout secara umum meningkat, tetapi perjalanan setiap individu berbeda (1). Inilah sebabnya hasil laboratorium harus selalu dibaca bersama kondisi klinis pasien.

Mengapa Asam Urat Sering Tinggi pada Sindrom Metabolik?

      Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang meliputi peningkatan lingkar pinggang, trigliserida tinggi, HDL rendah, tekanan darah meningkat, dan peningkatan glukosa darah (5). Menariknya, hiperurisemia sering ditemukan pada individu dengan kumpulan gangguan tersebut. Salah satu mekanisme yang diduga ikut menjelaskannya berkaitan dengan resistensi insulin dan hiperinsulinemia.

      Ketika sensitivitas insulin menurun, sel beta pankreas pada sebagian individu meningkatkan sekresi insulin sebagai mekanisme kompensasi untuk membantu mempertahankan kadar glukosa darah. Peningkatan insulin tersebut dapat memengaruhi penanganan urat oleh ginjal dan berkaitan dengan berkurangnya ekskresi urat sehingga kadar urat serum dapat meningkat (2,6).

      Namun, ceritanya tidak berhenti di sana. Hiperurisemia juga berkaitan dengan berbagai faktor yang sama-sama sering ditemukan pada gangguan metabolik, antara lain:

·       adipositas visceral,

·       fungsi ginjal,

·       hipertensi,

·       pola makan tertentu, termasuk asupan fruktosa berlebih dalam konteks tertentu,

·       konsumsi alkohol,

·       penggunaan obat tertentu, misalnya beberapa jenis diuretik, dan

·       faktor genetik yang memengaruhi transport dan ekskresi urat (1,6).

      Karena begitu banyak faktor yang saling berhubungan, menentukan mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat bukanlah perkara sederhana. Besarnya hubungan tersebut terlihat dalam penelitian epidemiologi.

      Sebuah systematic review dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 menganalisis 40 studi dengan total 214.091 peserta. Analisis tersebut menemukan hubungan bermakna antara sindrom metabolik dan hiperurisemia, dengan odds ratio sekitar 2,25 (2).

      Meta-analisis lain yang diterbitkan pada 2022, dengan data lebih dari 350.000 subjek, juga menemukan bahwa rata-rata kadar urat pada kelompok dengan sindrom metabolik lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa sindrom metabolik (3). Temuan tersebut memperkuat kesimpulan bahwa hiperurisemia dan sindrom metabolik memang sering berhubungan. Tetapi ada satu kalimat penting yang tidak boleh dilewatkan: association is not necessarily causation.

      Hubungan yang kuat secara statistik tidak otomatis membuktikan bahwa asam urat tinggi merupakan penyebab langsung sindrom metabolik. Bisa terdapat hubungan dua arah maupun faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap keduanya.

Apakah Asam Urat Termasuk Kriteria Sindrom Metabolik?

      Tidak. Ini penting karena tingginya hubungan antara hiperurisemia dan sindrom metabolik kadang membuat keduanya seolah-olah merupakan bagian dari definisi yang sama. Menurut kriteria harmonisasi internasional, terdapat lima komponen yang digunakan untuk menentukan sindrom metabolik, yaitu:

  1. peningkatan lingkar pinggang sesuai populasi;
  2. trigliserida ≥150 mg/dL atau mendapatkan terapi terkait;
  3. HDL <40 mg/dL pada pria atau <50 mg/dL pada wanita, atau mendapatkan terapi terkait;
  4. tekanan darah ≥130/85 mmHg atau mendapatkan terapi antihipertensi; dan
  5. glukosa darah puasa ≥100 mg/dL atau mendapatkan terapi hiperglikemia (5).

      Diagnosis umumnya ditetapkan jika terdapat tiga dari lima komponen tersebut. Serum urate tidak termasuk di antara lima kriteria tersebut. Artinya, kadar asam urat yang tinggi tidak dapat digunakan sendirian untuk mengatakan bahwa seseorang mengalami sindrom metabolik. Sebaliknya, seseorang dapat memenuhi kriteria sindrom metabolik tanpa mengalami hiperurisemia.

Apakah Menurunkan Asam Urat Akan Memperbaiki Sindrom Metabolik?

      Pertanyaan ini sangat penting karena di sinilah kita mudah melakukan lompatan kesimpulan. Jika asam urat tinggi berhubungan dengan sindrom metabolik, apakah menurunkan kadar asam urat dengan allopurinol otomatis akan memperbaiki resistensi insulin, tekanan darah, atau bahkan “menyembuhkan” sindrom metabolik?

      Belum ada dasar yang cukup untuk membuat kesimpulan seperti tersebut di atas. Hubungan epidemiologis antara dua keadaan tidak selalu berarti bahwa mengobati salah satunya akan menghilangkan yang lain. Obat penurun urat atau urate-lowering therapy (ULT), seperti allopurinol dan febuxostat, mempunyai tempat yang jelas terutama dalam pengelolaan gout pada pasien yang memenuhi indikasi terapi (4).

      Pada gout, sasaran terapinya jelas, menurunkan kadar urat secara berkelanjutan sehingga kristal monosodium urat dapat larut dan pembentukan kristal baru dapat dicegah. Namun, sindrom metabolik sendiri bukan indikasi otomatis untuk pemberian allopurinol. Dengan kata lain, kita tidak boleh membuat rangkaian kesimpulan: asam urat tinggi berhubungan dengan sindrom metabolik → turunkan urat dengan obat → sindrom metabolik akan hilang. Bukti ilmiah belum mendukung penyederhanaan tersebut.

Asam Urat Tinggi Tanpa Gout: Haruskah Minum Obat?

      Ini mungkin pertanyaan yang paling praktis. Seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan, menemukan kadar asam urat 7,8 mg/dL, tetapi tidak pernah mengalami gout. Haruskah langsung meminta allopurinol? Pada hiperurisemia asimtomatik, peningkatan kadar urat saja umumnya bukan alasan untuk langsung memulai terapi penurun urat.

      ACR 2020 secara kondisional merekomendasikan untuk tidak memulai terapi farmakologis penurun urat pada pasien dengan hiperurisemia asimtomatik semata-mata karena kadar urat meningkat (4).  Data yang ditelaah ACR menunjukkan bahwa meskipun terapi penurun urat dapat mengurangi kejadian gout pada kelompok ini, risiko absolut berkembang menjadi gout pada banyak individu relatif rendah. Bahkan pada individu dengan serum urate >9 mg/dL, data observasional yang digunakan ACR menunjukkan hanya sekitar 20% yang mengalami gout dalam lima tahun (4).

      Karena itu, memberikan obat kepada banyak individu yang mungkin tidak pernah mengalami gout harus ditimbang terhadap manfaat, risiko efek samping, biaya, dan beban pengobatan. Ini juga menjadi alasan mengapa allopurinol sebaiknya tidak digunakan sebagai obat swamedikasi hanya berdasarkan satu hasil laboratorium.

      Tentu terdapat keadaan klinis tertentu yang membutuhkan penilaian berbeda. Tentu, keputusan berbeda diperlukan bila seseorang memiliki gout atau kondisi klinis lain yang relevan. Riwayat serangan gout, tofi, batu saluran kemih, fungsi ginjal, kadar urat, penyakit penyerta, dan obat yang digunakan perlu dipertimbangkan secara individual. Karena itu, keputusan terapi tetap perlu dilakukan secara individual bersama tenaga kesehatan.

Jangan Hanya Melihat Angka Asam Urat

      Jika suatu hari pemeriksaan laboratorium menunjukkan asam urat tinggi, jangan langsung menyimpulkan dua hal: “Saya pasti akan kena gout” atau “Saya pasti mengalami sindrom metabolik.” Keduanya terlalu sederhana, yang lebih bermanfaat adalah melihat konteks kesehatan secara keseluruhan. Selain kadar urat, perhatikan:

  • lingkar pinggang dan berat badan,
  • tekanan darah,
  • glukosa darah dan HbA1c sesuai indikasi,
  • trigliserida dan HDL,
  • fungsi ginjal,
  • obat-obatan yang sedang digunakan,
  • pola makan dan konsumsi alcohol, serta
  • riwayat serangan gout atau batu saluran kemih.

      Hiperurisemia memang bukan sekadar persoalan “apakah sendi nanti sakit”. Kadar urat yang meningkat cukup sering ditemukan bersama berbagai gangguan metabolik dan dapat menjadi petunjuk bahwa gambaran kesehatan seseorang perlu dilihat lebih luas. Namun, asam urat bukanlah kriteria diagnosis sindrom metabolik, dan kadar yang tinggi tidak otomatis berarti seseorang memerlukan obat penurun urat. Pesan akhirnya sederhana: jangan abaikan angka asam urat, tetapi jangan pula membacanya secara terpisah. Asam urat adalah salah satu bagian dari gambaran kesehatan metabolik—bukan keseluruhan gambarnya.

Kesimpulan

      Hiperurisemia tidak sama dengan gout dan kadar asam urat yang tinggi juga tidak otomatis berarti seseorang mengalami sindrom metabolik. Namun, hiperurisemia memang sering ditemukan bersama berbagai gangguan metabolik, seperti obesitas abdominal, hipertensi, dislipidemia, dan gangguan metabolisme glukosa. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia, adipositas visceral, fungsi ginjal, pola makan, faktor genetik, serta obat-obatan tertentu dapat ikut menjelaskan hubungan tersebut. Meskipun berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara hiperurisemia dan sindrom metabolik, hubungan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa asam urat tinggi merupakan penyebab langsung sindrom metabolik. Serum urat juga bukan termasuk dalam lima kriteria diagnosis sindrom metabolik.

      Karena itu, hasil pemeriksaan asam urat sebaiknya tidak dinilai secara terpisah, melainkan bersama lingkar pinggang, tekanan darah, glukosa, profil lipid, fungsi ginjal, obat yang digunakan, pola makan, serta riwayat gout atau batu saluran kemih. Pada hiperurisemia asimtomatik, peningkatan kadar urat saja umumnya bukan alasan untuk langsung memulai terapi penurun urat seperti allopurinol. Dengan demikian, asam urat tinggi perlu diperhatikan sebagai bagian dari gambaran kesehatan seseorang, tetapi tidak boleh langsung disamakan dengan gout, sindrom metabolik, ataupun dianggap selalu memerlukan pengobatan.

Daftar Pustaka

1.     Dalbeth N, Gosling AL, Gaffo A, Abhishek A. Gout. Lancet. 2021;397(10287):1843–55.

2.     Fan J, Bian C, Wang J, Wang X, Cheng Y, Lei J. Correlation between metabolic syndrome and hyperuricemia: a systematic review and meta-analysis. Am J Hypertens. 2025;38(7):485–97.

3.     Raya-Cano E, Vaquero-Abellán M, Molina-Luque R, De Pedro-Jiménez D, Molina-Recio G, Romero-Saldaña M. Association between metabolic syndrome and uric acid: a systematic review and meta-analysis. Sci Rep. 2022;12(1):18412.

4.     FitzGerald JD, Dalbeth N, Mikuls T, Brignardello-Petersen R, Guyatt G, Abeles AM, et al. 2020 American College of Rheumatology guideline for the management of gout. Arthritis Care Res (Hoboken). 2020;72(6):744–60.

5.     Alberti KGMM, Eckel RH, Grundy SM, et al. Harmonizing the metabolic syndrome: a joint interim statement. Circulation. 2009;120(16):1640–5.

6.     Borghi C, Agabiti-Rosei E, Johnson RJ, Kielstein JT, Lurbe E, Mancia G, et al. Hyperuricaemia and gout in cardiovascular, metabolic and kidney disease. Eur J Intern Med. 2020;80:1–11.