Edukasi Farmasi & Kesehatan

Obat Viral Belum Tentu Efektif: Bagaimana Sains Membuktikan Khasiat Obat

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
August 31, 2026 5 min read
Obat Viral Belum Tentu Efektif: Bagaimana Sains Membuktikan Khasiat Obat
Photo by Unsplash

"Ribuan orang bilang obat ini ampuh dan videonya viral. Apakah itu berarti terbukti efektif? Simak bagaimana sains membedakan testimoni dari bukti ilmi..."

Obat Viral Belum Tentu Efektif: Bagaimana Sains Membuktikan Khasiat Obat

      Media sosial telah mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi tentang kesehatan dan obat. Sebuah obat, suplemen, atau produk kesehatan dapat tiba-tiba menjadi viral setelah videonya ditonton jutaan kali. Kolom komentar dipenuhi cerita pengguna yang merasa mendapatkan manfaat. Tidak jarang figur publik atau kreator konten ikut merekomendasikannya. Situasi seperti ini mudah menimbulkan kesan: jika banyak orang menggunakan dan membicarakannya, bukankah berarti produk tersebut memang ampuh? Jawabnya adalah, belum tentu.

      Popularitas menunjukkan seberapa besar perhatian masyarakat terhadap suatu produk, tetapi popularitas bukan ukuran efektivitas obat. Dalam ilmu kedokteran dan farmasi, efektivitas suatu obat tidak ditentukan oleh jumlah views, likes, komentar, atau seberapa sering produk tersebut muncul di media sosial. Efektivitas harus dinilai berdasarkan bukti ilmiah yang diperoleh melalui penelitian uji klink yang dirancang dengan baik.

      Media sosial sendiri bukan sesuatu yang harus selalu dipandang negatif. Platform digital dapat menjadi sarana edukasi kesehatan yang sangat luas dan cepat. Masalah muncul ketika viralitas dianggap sebagai pengganti pembuktian ilmiah.

Mengapa Suatu Obat Bisa Menjadi Viral?

      Ada banyak alasan mengapa suatu obat atau produk kesehatan menjadi populer di media sosial, dan efektivitas klinis belum tentu menjadi penyebab utamanya. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang mampu mempertahankan perhatian dan menghasilkan interaksi. Konten dengan cerita emosional, perubahan dramatis before-after, atau pernyataan seperti “ampuh”, “cepat sembuh”, “langsung terasa”, dan “tanpa efek samping” tentu lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan ilmiah yang penuh syarat dan membutuhkan waktu untuk dipahami.

      Testimoni juga mempunyai kekuatan persuasif yang besar. Cerita seseorang yang mengatakan kondisinya membaik setelah menggunakan suatu produk terasa lebih nyata daripada angka dalam penelitian klinis. Kemudian muncul fenomena social proof. Ketika suatu produk digunakan, direkomendasikan, dan dibicarakan oleh banyak orang, kita cenderung menganggap produk tersebut lebih dapat dipercaya. Padahal banyaknya orang yang membicarakan suatu produk belum menjawab pertanyaan ilmiah mengenai efektivitasnya.

       WHO menjelaskan bahwa meningkatnya digitalisasi dan penggunaan media sosial membuat informasi dapat menyebar jauh lebih cepat. Dalam konteks kesehatan, kondisi ini dapat membantu memenuhi kebutuhan informasi, tetapi juga dapat memperkuat penyebaran informasi yang salah atau menyesatkan. Kecepatan tersebut dapat membantu menyebarkan informasi yang bermanfaat, tetapi pada saat yang sama juga dapat memperkuat informasi yang keliru atau menyesatkan. Karena itu, ada prinsip sederhana yang perlu diingat, jumlah likes, views, komentar, dan shares bukan parameter farmakologi maupun efektivitas klinis suatu obat.

Efektif Menurut Siapa? Efektif untuk Apa?

      Kata “efektif” sebenarnya tidak sesederhana kedengarannya. Jika seseorang mengatakan, “Obat ini terbukti efektif,” seorang farmasis atau peneliti seharusnya masih mengajukan sejumlah pertanyaan: efektif untuk kondisi apa? Digunakan pada siapa? Berapa dosisnya? Dibandingkan dengan apa? Seberapa besar manfaatnya? Berapa lama terapi diberikan, dan yang tidak kalah penting, apa risikonya?

      Dalam penelitian obat dikenal istilah efficacy dan effectiveness. Secara sederhana, efficacy menggambarkan seberapa baik suatu intervensi bekerja dalam kondisi penelitian yang terkontrol, sedangkan effectiveness lebih menggambarkan manfaatnya ketika digunakan dalam praktik sehari-hari. Hasil keduanya tidak selalu identik. Pasien dalam dunia nyata lebih beragam dibandingkan peserta atau subjek uji klinis. Usia, penyakit penyerta, obat lain yang digunakan, kepatuhan terhadap terapi, hingga fungsi ginjal dan hati dapat memengaruhi respons seseorang terhadap obat.

      Selain itu, manfaat tidak boleh dipisahkan dari keamanan. Obat yang menghasilkan manfaat tertentu tetap dapat memiliki efek samping, kontraindikasi, dan interaksi obat. Karena itu, keputusan terapi tidak cukup hanya bertanya, “Apakah obat ini bekerja?”, tetapi juga “Apakah manfaatnya lebih besar daripada risikonya pada pasien yang akan menggunakannya?”

      Bayangkan suatu obat mampu mengurangi suatu keluhan pada sebagian pasien, tetapi menyebabkan efek samping serius pada kelompok tertentu. Menyebutnya sekadar “ampuh” jelas tidak memberikan informasi yang cukup untuk mengambil keputusan terapi.

Bagaimana Ilmu Pengetahuan Membuktikan Obat Efektif?

      Di sinilah perbedaan terbesar antara viralitas dan ilmu pengetahuan. Seseorang dapat mengatakan bahwa kondisinya membaik setelah menggunakan obat tertentu. Pengalaman tersebut mungkin benar. Namun, ilmu pengetahuan masih harus bertanya, apakah perbaikan tersebut benar-benar disebabkan oleh obat? Untuk menjawabnya, penelitian klinis dirancang sedemikian rupa agar berbagai kemungkinan lain dapat dikendalikan.

      Adanya kelompok pembanding, misalnya, membantu peneliti mengetahui apa yang terjadi pada pasien yang mendapat terapi dibandingkan dengan kelompok kontrol atau terapi lain. Randomisasi membantu membuat karakteristik antarkelompok lebih sebanding dan mengurangi risiko bias. Blinding (penyamaran), jika memungkinkan, membuat peserta, peneliti, atau keduanya tidak mengetahui intervensi mana yang diterima peserta sehingga dapat membantu mengurangi bias akibat ekspektasi terhadap hasil terapi. FDA menyebut kelompok kontrol dan metode lain untuk membatasi bias sebagai bagian penting yang dipertimbangkan dalam desain uji klinis.

      Jumlah peserta, lama penelitian, dosis yang digunakan, kriteria peserta, luaran yang diukur, dan cara data dianalisis juga telah direncanakan dalam protokol penelitian. Untuk pertanyaan mengenai manfaat terapi, Oxford Centre for Evidence-Based Medicine menempatkan systematic review dari uji acak sebagai salah satu sumber bukti yang paling kuat, diikuti antara lain oleh uji acak individual dan berbagai desain penelitian lainnya sesuai pertanyaan klinis yang diajukan.

      Namun, “hierarki evidence” juga tidak boleh digunakan secara kaku. Kualitas penelitian tetap harus diperiksa. Systematic review yang berisi penelitian berkualitas buruk, misalnya, tidak otomatis menghasilkan kesimpulan yang dapat dipercaya. Sebaliknya, penelitian observasional tertentu dapat memberikan informasi yang sangat penting, terutama untuk pertanyaan yang tidak selalu dapat dijawab melalui uji klinis.

      Guideline klinis pun bukan sekadar tingkat berikutnya dalam piramida evidence. Guideline menggunakan dan menilai bukti yang tersedia, kemudian mengubahnya menjadi rekomendasi dengan mempertimbangkan berbagai aspek klinis. Intinya, semakin baik penelitian dirancang untuk mengurangi bias dan faktor perancu, semakin kecil kemungkinan kita keliru menyimpulkan bahwa suatu obat efektif padahal sebenarnya tidak.

 Sudah Banyak yang Cocok,  Belum Membuktikan Efektivitas

      Salah satu argumen yang sering muncul ketika sebuah produk viral adalah, “Kalau tidak bagus, mengapa banyak orang mengatakan cocok?” Pertanyaan ini terdengar masuk akal, tetapi mempunyai kelemahan. Pengalaman seseorang setelah menggunakan obat memang merupakan informasi. Bahkan dalam ilmu farmakovigilans, laporan pengalaman pasien dapat menjadi sinyal penting untuk mendeteksi masalah keamanan yang kemudian perlu diselidiki lebih lanjut.

     Namun, pengalaman individual tidak dapat dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat. Seseorang mungkin benar-benar merasa lebih baik setelah menggunakan suatu produk. Akan tetapi, apakah perbaikan tersebut disebabkan oleh produknya? Apakah penyakitnya memang sedang menuju perbaikan? Apakah ia juga menggunakan terapi lain? Apakah ada perubahan pola makan, istirahat, atau gaya hidup?

      Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membedakan “membaik setelah menggunakan” dengan “membaik karena menggunakan.” Fenomena tersebut akan dibahas lebih khusus dalam artikel berikutnya mengenai mengapa review dan testimoni pengguna di TikTok tidak dapat menggantikan bukti efektivitas obat.

Lima Tanda Klaim Obat Viral Perlu Dicermati

      Masyarakat tentu tidak mungkin membaca jurnal ilmiah setiap kali menemukan produk kesehatan di media sosial. Namun, ada beberapa tanda sederhana yang dapat digunakan sebagai alarm awal.

1.     Pertama, menjanjikan hasil yang sangat cepat atau pasti. Kalimat seperti “pasti sembuh”, “langsung normal”, atau “dijamin berhasil” patut dicermati. Respons terhadap terapi dapat berbeda antarindividu dan hampir semua intervensi mempunyai keterbatasan.

2.     Kedua, diklaim cocok untuk hampir semua orang atau banyak penyakit sekaligus. Penyakit mempunyai penyebab dan mekanisme yang berbeda. Karena itu, klaim satu produk mampu menyelesaikan berbagai penyakit yang tidak berhubungan memerlukan bukti yang sangat kuat.

3.     Ketiga, testimoni menjadi bukti utama. Testimoni dapat menceritakan pengalaman, tetapi tidak memiliki kontrol seperti dalam penelitian klinis.

4.     Keempat, menggunakan kalimat “alami sehingga pasti aman” atau “tanpa efek samping”. Bahan alami tetap dapat mempunyai aktivitas biologis, efek samping, kontraindikasi, dan interaksi dengan obat.

5.     Kelima, tidak ada sumber ilmiah yang dapat diverifikasi. Pernyataan seperti “sudah terbukti secara ilmiah” seharusnya dapat ditelusuri, penelitian apa, dilakukan pada siapa, dipublikasikan di mana, dan apa sebenarnya hasilnya?

      BPOM pada 2026 juga kembali mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap promosi obat bahan alam di media sosial yang menggunakan testimoni meyakinkan dan klaim khasiat berlebihan. Kelima tanda tersebut tidak otomatis membuktikan suatu produk buruk atau tidak efektif. Namun, keberadaannya merupakan alasan yang baik untuk tidak langsung percaya dan melakukan verifikasi lebih lanjut.

Apa yang Harus Dilakukan Sebelum Mengikuti Obat yang Viral?

      Ketika menemukan obat atau produk kesehatan yang sedang viral, tidak perlu langsung percaya—tetapi juga tidak perlu langsung menolaknya hanya karena berasal dari media sosial. Mulailah dengan mengidentifikasi klaimnya. Apa sebenarnya yang dijanjikan produk tersebut? Setelah itu, periksa siapa yang menyampaikan informasi dan sumber apa yang digunakan.

      Untuk produk yang berada dalam pengawasan BPOM, masyarakat juga dapat menerapkan prinsip Cek KLIK: Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa. Status izin edar dan kesesuaian produk dengan ketentuan regulatori perlu dibedakan dari kebenaran setiap klaim tambahan yang dibuat oleh penjual, influencer, atau pengguna di media sosial. Produk memiliki izin edar bukan berarti semua klaim yang dibuat seseorang di media sosial otomatis benar.

      Selanjutnya, cari informasi dari sumber yang kredibel. Untuk keputusan terapi—terutama pada penyakit kronis, penggunaan obat keras, kehamilan, anak, lansia, atau pasien yang menggunakan beberapa obat sekaligus—diskusikan dengan apoteker, dokter, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah dari mana obat tersebut dibeli. Produk yang diklaim ampuh belum tentu ditawarkan melalui kanal penjualan yang legal dan dapat dipercaya. Persoalan ini menjadi penting terutama ketika obat viral langsung ditautkan ke marketplace.

Viral Mengukur Popularitas, Bukan Efektivitas

      Media sosial telah membuat informasi kesehatan jauh lebih mudah diakses. Ini merupakan peluang besar untuk meningkatkan literasi kesehatan, tetapi sekaligus menuntut masyarakat menjadi lebih kritis. Tidak semua produk viral tidak efektif, sebagaimana tidak semua informasi dari media sosial salah. Kekeliruannya terletak pada menggunakan viralitas sebagai bukti efektivitas.

      Jumlah orang yang menonton, membagikan, membeli, atau memberikan testimoni tidak dapat menggantikan penelitian yang dirancang untuk menguji manfaat dan risiko suatu terapi. Karena itu, ketika suatu obat mendadak ramai dibicarakan, pertanyaan terbaik bukanlah “Seberapa viral obat ini?”, melainkan Apa bukti ilmiah yang mendukung klaimnya?” Obat tidak menjadi efektif karena viral; obat dianggap efektif ketika manfaatnya didukung oleh bukti ilmiah yang memadai.

Kesimpulan

      Obat atau produk kesehatan yang viral tidak otomatis efektif, tetapi viralitas juga tidak berarti produk tersebut pasti tidak bermanfaat. Popularitas di media sosial hanya menunjukkan besarnya perhatian masyarakat, bukan kekuatan bukti ilmiah. Untuk mengetahui apakah suatu terapi benar-benar memberikan manfaat, kita perlu melihat penelitian yang dirancang dengan baik, kelompok pembanding yang sesuai, besarnya manfaat klinis, konsistensi hasil penelitian, serta risiko efek samping dan interaksi obat. 

      Testimoni pengguna dapat menjadi informasi awal dan dalam konteks tertentu bahkan berguna untuk mendeteksi sinyal keamanan, tetapi pengalaman individual tidak cukup untuk membuktikan bahwa perbaikan terjadi karena obat tersebut. Karena itu, ketika menemukan obat yang viral, pertanyaan yang paling penting bukan “Berapa banyak orang yang mengatakan obat ini ampuh?”, melainkan “Seberapa kuat bukti ilmiah yang mendukung manfaat dan keamanannya?” Sikap kritis seperti inilah yang membantu masyarakat memperoleh manfaat dari informasi kesehatan di media sosial tanpa menjadikan popularitas sebagai pengganti bukti ilmiah.

Baca juga artikel:

1.     Beli Obat di Marketplace, Apakah Aman? Kenali Risiko Obat Ilegal dan Palsu

2.     Mengapa Review Pengguna Bukan Bukti Efektivitas Obat

Daftar Pustaka

1.     World Health Organization. Infodemic [Internet]. Geneva: WHO; [cited 2026 Aug 29]. Available from: WHO, Health Topics: Infodemic.

2.     U.S. Food and Drug Administration. Step 3: Clinical Research [Internet]. Silver Spring (MD): FDA; 2025 [cited 2026 Aug 29]. Available from: FDA, Drug Development Process.

3.     OCEBM Levels of Evidence Working Group. The Oxford 2011 Levels of Evidence [Internet]. Oxford: Oxford Centre for Evidence-Based Medicine; 2011 [cited 2026 Aug 29].

4.     Balai POM di Tasikmalaya. Waspada Janji Manis Iklan Obat Bahan Alam di Media Sosial [Internet]. Tasikmalaya: Badan Pengawas Obat dan Makanan; 2026 Apr 13 [cited 2026 Aug 29].

5.     Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Cerdas Gunakan Obat, Ingat Cek KLIK! [Internet]. Jakarta: BPOM RI; 2025 [cited 2026 Aug 29].