KESEHATAN & FARMASI

Indeks Glikemik vs Beban Glikemik: Mana yang Lebih Penting?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
July 04, 2026 5 min read
Indeks Glikemik vs Beban Glikemik: Mana yang Lebih Penting?
Photo by Unsplash

"Indeks Glikemik (IG) dan Beban Glikemik (BG) sering digunakan untuk memilih makanan yang lebih ramah terhadap gula darah, tetapi keduanya memiliki fun..."

                             Indeks Glikemik vs Beban Glikemik: Mana yang Lebih Penting?

      Pada artikel sebelumnya kita telah membahas bahwa tidak semua makanan yang mengandung karbohidrat menyebabkan lonjakan gula darah (glucose spike) yang sama. Sebagian makanan meningkatkan kadar glukosa darah dengan cepat, sedangkan makanan lainnya menghasilkan peningkatan yang lebih lambat dan bertahap. Perbedaan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah karbohidrat, tetapi juga oleh jenis pati, kandungan serat, cara pengolahan, hingga kombinasi makanan yang dikonsumsi.

      Untuk mempermudah masyarakat memahami respons glukosa setelah makan, para peneliti mengembangkan konsep Indeks Glikemik (IG). Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ini semakin populer dan sering digunakan sebagai acuan untuk memilih makanan yang dianggap "lebih sehat". Tidak sedikit orang kemudian menghindari makanan yang memiliki nilai IG tinggi dan lebih memilih makanan dengan IG rendah.

      Namun, apakah nilai IG saja sudah cukup untuk menilai suatu makanan? Mengapa semangka memiliki nilai IG yang relatif tinggi, tetapi tidak selalu menyebabkan lonjakan gula darah yang besar? Sebaliknya, mengapa beberapa makanan dengan IG rendah belum tentu lebih sehat? Jawaban atas pertanyaan tersebut memerlukan pemahaman mengenai konsep IG dan Beban Glikemik (BG). Artikel ini akan membahas kedua konsep tersebut berdasarkan bukti ilmiah sehingga pembaca dapat menggunakannya secara lebih bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Indeks Glikemik (IG)?

      Konsep IG pertama kali diperkenalkan pada tahun 1981 oleh David J. A. Jenkins dan rekan-rekannya sebagai cara untuk mengelompokkan makanan berdasarkan kemampuan karbohidrat di dalamnya dalam meningkatkan kadar glukosa darah setelah dikonsumsi. Konsep ini kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam penelitian gizi klinis dan pengelolaan diabetes.

      Secara sederhana, Indeks Glikemik adalah angka yang menunjukkan seberapa cepat karbohidrat dari suatu makanan meningkatkan kadar glukosa darah dibandingkan dengan makanan standar, yaitu glukosa murni atau pada beberapa penelitian menggunakan roti putih sebagai pembanding. Perlu dipahami bahwa IG tidak menunjukkan banyaknya gula dalam suatu makanan, melainkan kecepatan respons glukosa darah setelah makanan tersebut dikonsumsi. Dengan demikian, dua makanan yang mengandung jumlah karbohidrat yang sama dapat memiliki nilai IG yang berbeda karena proses pencernaan dan penyerapannya tidak sama.

      Konsep ini membantu menjelaskan mengapa makanan seperti oatmeal, kacang-kacangan, atau gandum utuh umumnya menghasilkan kenaikan glukosa yang lebih lambat dibandingkan makanan yang lebih banyak mengalami proses pengolahan.

Bagaimana Cara Mengukur Indeks Glikemik?

      Penentuan nilai IG dilakukan melalui metode penelitian yang telah distandarkan. Pada prosedur ini, sejumlah sukarelawan sehat mengonsumsi makanan uji yang mengandung 50 gram karbohidrat tersedia (available carbohydrate), yaitu karbohidrat yang benar-benar dapat dicerna dan diserap tubuh, tidak termasuk serat pangan. Selanjutnya, kadar glukosa darah diukur secara berkala, biasanya selama dua jam setelah makan. Dari hasil pengukuran tersebut dibuat kurva perubahan kadar glukosa darah terhadap waktu. Luas area di bawah kurva atau Area Under the Curve (AUC) kemudian dibandingkan dengan AUC setelah mengonsumsi glukosa murni sebagai makanan standar. Perbandingan inilah yang menghasilkan nilai Indeks Glikemik suatu makanan.

      Dengan metode tersebut, IG menjadi ukuran yang relatif objektif untuk membandingkan kecepatan respons glukosa dari berbagai jenis makanan. Namun, penting dipahami bahwa pengukuran ini dilakukan pada kondisi laboratorium yang terkontrol, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari seseorang hampir selalu mengonsumsi makanan dalam bentuk kombinasi, bukan satu jenis makanan saja.

Klasifikasi Indeks Glikemik

      Berdasarkan konsensus internasional, nilai Indeks Glikemik umumnya dikelompokkan sebagai berikut:

image.png 58.32 KB
Meskipun klasifikasi ini sangat membantu dalam membandingkan berbagai jenis makanan, nilai IG tidak boleh digunakan secara terpisah sebagai satu-satunya dasar memilih makanan. IG hanya menggambarkan kecepatan peningkatan glukosa darah, tetapi belum memperhitungkan jumlah karbohidrat yang benar-benar dikonsumsi dalam satu porsi. Keterbatasan inilah yang kemudian melahirkan konsep Beban Glikemik (Glycemic Load), yang akan dibahas pada bagian berikutnya.

Apa Itu Beban Glikemik (BG)?

      Meskipun Indeks Glikemik (IG) sangat bermanfaat untuk menggambarkan seberapa cepat suatu makanan meningkatkan kadar glukosa darah, konsep ini memiliki satu keterbatasan penting. Nilai IG hanya memperhitungkan kecepatan peningkatan glukosa, tetapi tidak memperhitungkan berapa banyak karbohidrat yang benar-benar dikonsumsi dalam satu porsi makanan. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para ahli kemudian memperkenalkan konsep Beban Glikemik (BG) atau Glycemic Load (GL) pada tahun 1997. Beban glikemik dikembangkan oleh para peneliti yang dipimpin oleh Walter C. Willett dan koleganya di Harvard T.H. Chan School of Public Health sebagai penyempurnaan konsep indeks glikemik.

      Secara sederhana, Beban Glikemik menunjukkan seberapa besar suatu porsi makanan diperkirakan meningkatkan kadar glukosa darah, karena memperhitungkan dua hal sekaligus, yaitu:

1.     Kecepatan penyerapan karbohidrat (Indeks Glikemik/IG).

2.     Jumlah karbohidrat yang benar-benar dikonsumsi dalam satu porsi.

Dengan demikian, BG memberikan gambaran yang lebih mendekati kondisi nyata ketika seseorang makan dalam kehidupan sehari-hari. Rumus yang digunakan adalah:

Beban Glikemik (BG) = (Indeks Glikemik × Gram Karbohidrat per Porsi) ÷ 100

Berdasarkan nilainya, beban glikemik umumnya diklasifikasikan menjadi:

 |  Nilai BG      | Kategori 

 |  ≤10             | Rendah
 |  11–19           | Sedang
 |  ≥20             | Tinggi

Perbedaan inilah yang membuat banyak ahli gizi menilai bahwa beban glikemik lebih aplikatif dibandingkan indeks glikemik apabila digunakan untuk merencanakan pola makan sehari-hari.

Mengapa Beban Glikemik Dianggap Lebih Praktis?

      Salah satu contoh yang paling sering digunakan untuk menjelaskan perbedaan IG dan BG adalah semangka. Semangka memiliki Indeks Glikemik yang relatif tinggi, yaitu sekitar 72, sehingga sekilas tampak sebagai makanan yang kurang baik bagi kadar glukosa darah. Namun, semangka sebagian besar terdiri atas air. Dalam satu porsi konsumsi normal, kandungan karbohidratnya relatif sedikit, sehingga beban glikemiknya justru rendah.

      Hal yang sama juga dapat dijumpai pada beberapa jenis buah dan sayuran lain, seperti wortel rebus atau labu, yang memiliki nilai IG sedang hingga tinggi, tetapi kandungan karbohidrat per porsinya tidak terlalu besar. Sebaliknya, suatu makanan dapat memiliki nilai IG sedang, tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah yang sangat banyak, beban glikemiknya menjadi tinggi. Oleh karena itu, jumlah makanan yang dikonsumsi tetap memiliki peranan penting dalam menentukan respons glukosa darah.

      Konsep ini memberikan pesan yang sangat penting bagi masyarakat, yaitu tidak cukup hanya melihat angka IG suatu makanan. Dalam praktik sehari-hari, ukuran porsi sering kali lebih menentukan dibandingkan nilai IG semata. Contoh Perhitungan Sederhana, agar lebih mudah dipahami, perhatikan contoh berikut.

Misalnya, satu porsi semangka memiliki:

  • Indeks Glikemik (IG) = 72
  • Karbohidrat tersedia = 6 gram

Maka:

BG = (72 × 6) ÷ 100 = 4,3

Nilai tersebut termasuk kategori beban glikemik rendah, meskipun nilai IG semangka cukup tinggi.

      Berikut beberapa contoh perbandingan sederhana.

image.png 42.54 KB
Tabel di atas merupakan ilustrasi sederhana. Nilai IG dan BG dapat bervariasi bergantung pada varietas bahan pangan, tingkat kematangan, cara memasak, ukuran porsi, serta metode pengukuran yang digunakan.

      Dari contoh tersebut terlihat bahwa Indeks Glikemik dan Beban Glikemik saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Indeks glikemik membantu memahami kecepatan suatu makanan meningkatkan kadar glukosa darah, sedangkan beban glikemik menggambarkan besarnya pengaruh makanan dalam satu porsi konsumsi. Oleh karena itu, dalam praktik klinis maupun perencanaan pola makan, kedua konsep ini sebaiknya dipertimbangkan secara bersamaan agar memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai respons glukosa tubuh.

Faktor yang Memengaruhi Nilai Indeks Glikemik

      Nilai IG suatu makanan bukanlah angka yang bersifat mutlak. Berbagai faktor dapat memengaruhi kecepatan karbohidrat dicerna dan diserap menjadi glukosa sehingga respons gula darah setiap makanan dapat berbeda.

1.  Jenis Pati

Pati tersusun atas dua komponen utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Makanan dengan kandungan amilosa yang lebih tinggi umumnya dicerna lebih lambat sehingga menghasilkan nilai IG yang lebih rendah. Sebaliknya, makanan yang kaya amilopektin lebih cepat dipecah oleh enzim pencernaan sehingga kadar glukosa darah meningkat lebih cepat.

2.   Kandungan Serat

Serat, terutama serat larut, memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa di usus. Oleh karena itu, makanan tinggi serat cenderung memiliki nilai IG yang lebih rendah dibandingkan makanan yang telah kehilangan sebagian besar seratnya.

3.   Kandungan Protein

Protein memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan sekresi hormon incretin yang membantu kerja insulin. Kombinasi protein dengan karbohidrat umumnya menghasilkan respons glukosa yang lebih rendah dibandingkan karbohidrat saja.

4.   Kandungan Lemak

Lemak sehat juga dapat memperlambat proses pencernaan sehingga glukosa dilepaskan secara lebih bertahap. Namun, makanan tinggi lemak tidak otomatis menjadi pilihan yang lebih sehat karena tetap perlu mempertimbangkan kualitas lemak dan total energi.

5.   Cara Memasak

Pemanasan yang terlalu lama (overcooking) dapat menyebabkan pati lebih mudah dicerna sehingga nilai IG meningkat. Sebaliknya, beberapa metode pengolahan dapat memperlambat pencernaan karbohidrat.

6.  Pendinginan Makanan

Nasi, kentang, atau pasta yang telah dimasak kemudian didinginkan akan membentuk lebih banyak pati resisten (resistant starch), yaitu pati yang tidak mudah dicerna di usus halus. Hal ini dapat menurunkan respons glukosa setelah makanan tersebut dikonsumsi kembali.

7.   Tingkat Kematangan Buah

Pada buah-buahan seperti pisang, pati secara bertahap berubah menjadi gula sederhana selama proses pematangan. Oleh karena itu, buah yang sangat matang umumnya memiliki respons glukosa sedikit lebih tinggi dibandingkan buah yang belum terlalu matang.

8.  Tingkat Pengolahan Pangan

Semakin halus suatu bahan pangan diproses menjadi tepung, bubur (puree), atau jus, semakin besar luas permukaan yang dapat diakses oleh enzim pencernaan. Akibatnya, glukosa lebih cepat diserap dibandingkan bahan pangan yang masih utuh.

Apakah Makanan dengan IG Rendah Selalu Lebih Sehat?

      Jawabannya adalah tidak selalu. Nilai IG hanya menggambarkan kecepatan peningkatan kadar glukosa darah, bukan kualitas gizi suatu makanan secara keseluruhan. Sebagai contoh, es krim dapat memiliki nilai IG yang relatif rendah karena kandungan lemaknya memperlambat pengosongan lambung. Namun, es krim tetap mengandung gula tambahan dan lemak jenuh yang tinggi sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai makanan sehat.

      Oleh karena itu, pemilihan makanan sebaiknya mempertimbangkan kandungan serat, vitamin, mineral, protein, jenis lemak, tingkat pengolahan, serta total energi, bukan hanya nilai IG.

Apakah Makanan dengan IG Tinggi Selalu Buruk?

      Jawabannya juga tidak. Beberapa makanan dengan nilai IG tinggi justru merupakan sumber zat gizi yang baik. Semangka, wortel rebus, dan kentang rebus merupakan contoh makanan yang memiliki nilai IG relatif tinggi, tetapi mengandung banyak air, vitamin, mineral, dan fitonutrien. Selain itu, beban glikemik beberapa makanan tersebut relatif rendah karena kandungan karbohidrat per porsinya tidak terlalu besar. Artinya, konteks konsumsi tetap lebih penting daripada hanya melihat angka IG.

Kapan Konsep IG dan BG Digunakan?

      Konsep Indeks Glikemik dan Beban Glikemik banyak digunakan dalam praktik gizi klinis dan penelitian, terutama pada:

  • penderita diabetes melitus;
  • individu dengan prediabetes;
  • orang dengan obesitas atau sindrom metabolik;
  • atlet yang memerlukan strategi pengaturan energi sebelum maupun setelah latihan.

Meskipun demikian, organisasi profesi seperti American Diabetes Association (ADA) menekankan bahwa IG dan BG hanyalah alat bantu. Pengelolaan pola makan tetap harus mempertimbangkan kualitas diet secara keseluruhan, distribusi karbohidrat, kebutuhan energi, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

Keterbatasan Indeks Glikemik dalam Praktik Klinis

      Meskipun indeks glikemik (IG) merupakan alat yang bermanfaat untuk membandingkan kemampuan suatu pangan dalam meningkatkan kadar glukosa darah, nilai tersebut diperoleh dalam kondisi penelitian yang sangat terkontrol. Secara umum, pengukuran IG dilakukan dengan memberikan 50 gram karbohidrat tersedia dari satu jenis makanan kepada subjek dalam keadaan puasa, kemudian respons glukosa darah dibandingkan dengan pangan acuan seperti glukosa atau roti putih. Kondisi ini berbeda dengan kehidupan sehari-hari, di mana seseorang hampir selalu mengonsumsi makanan dalam bentuk hidangan campuran yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, serat, serta dipengaruhi oleh cara memasak, tingkat kematangan bahan pangan, ukuran porsi, waktu makan, aktivitas fisik, hingga perbedaan respons metabolik antarindividu. Akibatnya, respons glukosa setelah makan dapat berbeda dari nilai IG yang dilaporkan dalam penelitian.

      Oleh karena itu, dalam praktik klinis, IG dan BG sebaiknya dipandang sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan aturan yang harus diikuti secara kaku. IG membantu menilai kualitas karbohidrat, sedangkan BG memberikan gambaran yang lebih realistis karena mempertimbangkan jumlah karbohidrat yang benar-benar dikonsumsi dalam satu porsi. Namun, pemilihan makanan tetap harus mempertimbangkan kualitas gizi secara menyeluruh, termasuk kandungan serat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan total energi. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi berbagai organisasi ilmiah, seperti American Diabetes Association (ADA) dan European Association for the Study of Diabetes (EASD), yang menekankan pentingnya pola makan seimbang dan berkelanjutan dibandingkan berfokus pada satu angka atau indikator saja. Dengan demikian, IG dan BG paling tepat digunakan sebagai bagian dari strategi perencanaan makan yang komprehensif, bukan sebagai satu-satunya dasar dalam memilih makanan.

Mitos vs Fakta

1.     Mitos: Makanan dengan IG tinggi pasti buruk.
Fakta: Tidak. Nilai gizi, porsi makan, dan beban glikemik juga perlu dipertimbangkan.

2.     Mitos: Beban glikemik selalu lebih penting daripada indeks glikemik.
Fakta: Kedua konsep saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan.

3.     Mitos: Semua makanan dengan IG rendah pasti sehat.
Fakta: Kandungan lemak jenuh, gula tambahan, dan energi tetap perlu diperhatikan.

4.     Mitos: Penderita diabetes harus menghindari semua makanan ber-IG tinggi.
Fakta: Yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan dan pengaturan porsi.

5.     Mitos: Buah dengan IG tinggi menyebabkan diabetes.
Fakta: Tidak terdapat bukti bahwa konsumsi buah utuh dalam jumlah yang sesuai 

            menyebabkan diabetes pada individu sehat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1.     Apakah nasi merah selalu memiliki IG lebih rendah daripada nasi putih?
Secara umum ya, tetapi nilainya dapat berbeda tergantung varietas beras dan cara memasaknya.

2.     Apakah oatmeal selalu lebih baik?
Oat utuh umumnya memiliki IG lebih rendah dibandingkan oat instan karena lebih sedikit mengalami proses pengolahan.

3.     Apakah kentang buruk bagi penderita diabetes?
Tidak. Cara memasak, ukuran porsi, dan makanan pendamping lebih menentukan dibandingkan kentang itu sendiri.

4.     Apakah pisang matang memiliki IG lebih tinggi?
Ya, karena sebagian pati telah berubah menjadi gula sederhana selama proses pematangan.

5.     Apakah jus buah memiliki IG lebih tinggi daripada buah utuh?
Pada umumnya ya, karena kandungan seratnya lebih rendah.

6.     Apakah penderita diabetes wajib menghitung IG setiap makanan?
Tidak. Pendekatan yang lebih praktis adalah menerapkan pola makan sehat secara keseluruhan dengan bantuan tenaga kesehatan bila diperlukan.

7.     Mana yang lebih penting, IG atau BG?
Dalam praktik sehari-hari, keduanya saling melengkapi. IG menunjukkan kecepatan peningkatan glukosa, sedangkan BG memperhitungkan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.

Kesimpulan

      Indeks Glikemik dan Beban Glikemik merupakan dua konsep yang membantu memahami bagaimana makanan memengaruhi kadar glukosa darah. Indeks Glikemik menggambarkan kecepatan peningkatan glukosa, sedangkan Beban Glikemik memperhitungkan kecepatan sekaligus jumlah karbohidrat dalam satu porsi makanan. Oleh karena itu, keduanya sebaiknya digunakan secara bersamaan sebagai alat bantu dalam memilih makanan, bukan sebagai satu-satunya penentu kualitas diet.

      Pada akhirnya, pola makan yang kaya sayuran, buah utuh, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, protein berkualitas, dan lemak sehat tetap merupakan pendekatan yang paling dianjurkan untuk menjaga kesehatan metabolik serta membantu mengurangi risiko diabetes melitus dan penyakit kronis lainnya.

Baca artikel lain: 

1.     Dampak Negatif Lonjakan Glukosa: Tidak Hanya Berisiko Diabetes

2.     Bagaimana Cara mendatarkan Lonjakan Glukosa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

3.     Benarkah Semua Karbohidrat Menyebabkan Lonjakan Gula Darah?

4.     Advanced Glycation End Products (AGEs): Mengapa Gula Berlebih Mempercepat Penuaan?

Daftar Pustaka

1.     American Diabetes Association Professional Practice Committee. Standards of Care in Diabetes. Edisi terbaru. 

2.     Atkinson FS, Foster-Powell K, Brand-Miller JC. International Tables of Glycemic Index and Glycemic Load Values: 2008. The American Journal of Clinical Nutrition. 2008;87(1):97–105. 

3.     Diabetes Care. Artikel penelitian (peer-reviewed) mengenai terapi nutrisi diabetes, indeks glikemik, beban glikemik, dan pengendalian glikemik. 

4.     Jenkins DJA, Wolever TMS, Taylor RH, Barker H, Fielden H, Baldwin JM, et al. Glycemic Index of Foods: A Physiological Basis for Carbohydrate Exchange. The American Journal of Clinical Nutrition. 1981;34(3):362–366. 

5.     Nature Reviews Endocrinology. Artikel ulasan (review articles) mengenai metabolisme glukosa, nutrisi, resistensi insulin, dan penyakit metabolik. 

6.     World Health Organization. Diabetes. Fact Sheet. Geneva: World Health Organization. Versi terbaru. 

7.     World Health Organization. Healthy Diet. Geneva: World Health Organization