KESEHATAN & FARMASI

Autophagy, mTOR, dan Rapamycin: Benarkah Kita Dapat Memperlambat Penuaan?

By Tim Leskonfi
Journalist
September 05, 2026 5 min read
Autophagy, mTOR, dan Rapamycin: Benarkah Kita Dapat Memperlambat Penuaan?
Photo by Unsplash

"Rapamycin dapat memperpanjang umur pada hewan. Bisakah efeknya terjadi pada manusia? Kenali mTOR, autophagy, dan fakta di balik riset obat anti-aging."

Autophagy, mTOR, dan Rapamycin: Benarkah Kita Dapat Memperlambat Penuaan?

      Makan bukan hanya menyediakan energi dan bahan pembangun bagi tubuh. Kehadiran glukosa, asam amino, dan berbagai zat gizi juga menghasilkan sinyal yang memberi tahu sel apakah kondisi sedang cukup baik untuk tumbuh dan membangun jaringan, atau justru saatnya menghemat sumber daya dan meningkatkan proses pemeliharaan.

      Tetapi bagaimana sel dapat “mengetahui” keadaan tersebut? Jawabannya melibatkan sejumlah jalur yang disebut nutrient-sensing pathways. Jalur ini memungkinkan sel merespons perubahan ketersediaan energi dan nutrisi. Salah satu pemain terpentingnya adalah mechanistic target of rapamycin (mTOR).

      Menariknya, mTOR bukan hanya berhubungan dengan metabolisme dan pertumbuhan. Jalur ini juga menjadi salah satu pusat perhatian dalam penelitian penuaan. Bahkan sebuah obat yang menghambatnya, rapamycin atau sirolimus, mampu memperpanjang umur berbagai organisme, termasuk tikus(1,2). Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan yang jauh lebih besar: jika sebagian mekanisme penuaan dapat dimodulasi melalui mTOR, mungkinkah suatu hari kita memperlambat penuaan dengan obat?

Mengenal mTOR: “Saklar Pertumbuhan” Sel

      mTOR adalah protein kinase yang berperan sebagai pusat integrasi berbagai informasi mengenai keadaan lingkungan sel. Ia menerima sinyal mengenai ketersediaan asam amino, energi, oksigen, serta sinyal hormonal dan growth factors, termasuk insulin.

      Secara sederhana, mTOR dapat dibayangkan sebagai bagian dari sistem pengatur yang membantu sel memutuskan: apakah sekarang waktunya tumbuh dan membangun, atau waktunya menghemat dan melakukan pemeliharaan? mTOR bekerja melalui dua kompleks protein utama, yaitu mTOR complex 1 (mTORC1) dan mTOR complex 2 (mTORC2). Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda. Dalam konteks nutrisi, autophagy, rapamycin, dan penuaan, perhatian terbesar biasanya tertuju pada mTORC1.

      Ketika nutrisi dan sinyal pertumbuhan tersedia, aktivasi mTORC1 mendorong proses anabolik, termasuk sintesis protein dan lipid serta pertumbuhan sel. Sebaliknya, mTORC1 menghambat beberapa proses katabolik, termasuk autophagy(1).

      Namun, ini tidak berarti mTOR adalah sesuatu yang buruk dan harus selalu ditekan. Aktivitas jalur mTOR mempunyai berbagai fungsi fisiologis penting, termasuk regulasi pertumbuhan dan metabolisme sel, sintesis protein, serta fungsi jaringan. Karena itu, mTOR bukan sekadar jalur yang ‘buruk’ dan harus selalu ditekan. Masalah biologisnya bukan sekadar mTOR “aktif atau tidak aktif”, melainkan bagaimana aktivitas jalur tersebut diatur sesuai kebutuhan tubuh. Dalam biologi penuaan, gangguan nutrient sensing, termasuk perubahan regulasi mTOR, telah ditempatkan sebagai salah satu hallmarks of aging(1).

Ketika mTOR Direm: Dari Pertumbuhan ke Pemeliharaan

      Ketika ketersediaan nutrisi menurun, sel harus menyesuaikan prioritasnya. Energi yang terbatas membuat aktivitas pertumbuhan tidak dapat terus berlangsung seperti ketika sumber daya melimpah.

Dalam kondisi tertentu, penurunan aktivitas mTORC1 memungkinkan meningkatnya proses pemeliharaan sel, salah satunya autophagy.

     Autophagy secara harfiah sering diterjemahkan sebagai “memakan diri sendiri”. Namun istilah tersebut mudah menimbulkan kesalahpahaman. Autophagy lebih tepat dibayangkan sebagai sistem degradasi dan daur ulang di dalam sel. Komponen sel yang rusak atau tidak lagi diperlukan dapat diarahkan ke lisosom untuk diuraikan, kemudian sebagian komponennya digunakan kembali. Proses ini berkontribusi terhadap pemeliharaan homeostasis sel dan proteostasis dengan membantu degradasi serta daur ulang protein dan komponen sel tertentu yang rusak atau tidak lagi diperlukan.         

      Karena akumulasi kerusakan molekuler dan terganggunya proteostasis merupakan bagian dari proses penuaan, kemampuan sel melakukan pemeliharaan semacam ini menjadi sangat menarik dalam ilmu aging(1). Namun hubungan antara autophagy dan penuaan jauh lebih kompleks daripada ungkapan populer bahwa “autophagy membersihkan tubuh”. 

      Autophagy juga berlangsung secara basal dan diatur oleh banyak faktor, bukan hanya makanan. Hubungan antara puasa, berapa lama seseorang harus tidak makan, dan kapan autophagy meningkat pada manusia akan dibahas secara khusus pada artikel berikutnya.

Dari Pulau Rapa Nui ke Laboratorium: Kisah Rapamycin

      Salah satu kisah paling menarik dalam sejarah farmakologi modern bermula dari tanah di sebuah pulau terpencil di Samudra Pasifik. Pada 1960-an, sampel tanah dikumpulkan dari Rapa Nui atau Easter Island. Dari sampel tersebut kemudian diisolasi bakteri tanah Streptomyces hygroscopicus yang menghasilkan senyawa dengan aktivitas antijamur. Senyawa itu kemudian diberi nama rapamycin, mengikuti nama Rapa Nui(3).

      Pada awalnya rapamycin diteliti karena aktivitas antijamurnya. Namun penelitian berikutnya menunjukkan bahwa senyawa ini juga memiliki aktivitas imunosupresif dan antiproliferatif. Rapamycin kemudian menjadi alat yang sangat penting untuk memahami mekanisme pertumbuhan sel. Penelitian pada ragi membantu mengidentifikasi protein yang menjadi target rapamycin, yang kemudian mengarahkan ilmuwan pada jalur TOR—target of rapamycin. Pada mamalia, protein tersebut kemudian dikenal sebagai mTOR(3).

      Dengan demikian, nama salah satu jalur terpenting dalam biologi sel modern justru berasal dari obat yang membantu para ilmuwan menemukannya. Dalam penggunaan klinis, rapamycin dikenal dengan nama generik sirolimus, suatu obat imunosupresan yang antara lain digunakan untuk mencegah penolakan organ pada transplantasi ginjal. Sirolimus juga mempunyai indikasi tertentu lainnya, misalnya lymphangioleiomyomatosis (LAM)(4). Tetapi kemudian muncul penemuan yang membuat rapamycin menarik perhatian ilmuwan penuaan, sebagaimana ditulis di bawah ini.

Rapamycin dan Umur Panjang: Mengapa Para Peneliti Tertarik?

      Pada 2009, sebuah penelitian penting dari National Institute on Aging Interventions Testing Program dipublikasikan dalam Nature. Para peneliti memberikan rapamycin kepada tikus yang secara genetik heterogen. Menariknya, pemberian baru dimulai ketika tikus berusia sekitar 600 hari, yang sudah tergolong usia lanjut untuk hewan tersebut.

      Hasilnya mengejutkan. Rapamycin meningkatkan median dan maximal lifespan pada tikus jantan maupun betina. Jika dinilai berdasarkan usia ketika 90% populasi telah mati—salah satu ukuran yang digunakan untuk menilai maximum lifespan—usia tersebut meningkat sekitar 9% pada jantan dan 14% pada betina(2). Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa intervensi farmakologis terhadap jalur mTOR masih dapat memengaruhi umur bahkan ketika diberikan relatif terlambat dalam kehidupan.

      Penelitian lanjutan pada hewan semakin memperkuat posisi mTOR sebagai salah satu target penting dalam geroscience. Rapamycin dan intervensi terhadap jalur mTOR diketahui dapat memengaruhi berbagai proses yang berhubungan dengan penuaan, mulai dari autophagy, proteostasis, metabolisme hingga respons imun(1). 

      Hal di atas yang membuat rapamycin berbeda dari sekadar kandidat “obat panjang umur” yang populer di internet. Ada mekanisme biologis yang kuat dan evidence eksperimental pada berbagai organisme yang membuatnya layak diteliti.  Tetapi ada garis batas yang sangat penting: memperpanjang hidup tikus tidak sama dengan membuktikan bahwa rapamycin memperpanjang hidup manusia. Banyak intervensi yang menjanjikan pada hewan tidak menghasilkan efek yang sama ketika diuji pada manusia.

Apakah Rapamycin Sudah Menjadi “Obat Anti-Aging”?

       Jawabannya saat ini (2026) adalah belum. Sejumlah penelitian pada manusia memang memberikan sinyal yang menarik. Beberapa uji klinis menggunakan rapamycin atau turunannya—yang sering disebut rapalogs—telah mengevaluasi berbagai parameter yang berkaitan dengan penuaan.

      Salah satu contoh menarik berasal dari penelitian terhadap orang berusia lanjut. Inhibisi TORC1 dengan regimen rapalog tertentu dilaporkan meningkatkan beberapa parameter fungsi imun dan menurunkan angka infeksi dalam periode pengamatan(5).  Review sistematis yang dipublikasikan pada 2024 dan mencakup 19 studi manusia juga menemukan bahwa rapamycin dan turunannya memberikan perbaikan pada beberapa parameter fisiologis terkait penuaan, terutama pada sistem imun, kardiovaskular, dan kulit. Namun, manfaat yang konsisten belum ditemukan pada sistem endokrin, otot, maupun neurologis(6).

      Lebih penting lagi, penelitian tersebut bukan bukti bahwa rapamycin memperpanjang lifespan manusia. Dari perspektif farmasi, kehati-hatian ini sangat penting karena sirolimus adalah obat aktif dengan profil efek samping dan interaksi obat yang nyata.

      Dalam penggunaan klinisnya sebagai imunosupresan, sirolimus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Efek yang juga perlu diperhatikan antara lain stomatitis, gangguan penyembuhan luka, edema, hiperlipidemia, proteinuria, gangguan hematologi, serta pneumonitis noninfeksi pada sebagian pasien. Sirolimus juga merupakan substrat CYP3A4 dan P-glycoprotein sehingga berpotensi mengalami interaksi obat yang bermakna(4).

      Dosis dan pola pemberian juga menjadi persoalan penting. Dosis yang digunakan sebagai imunosupresan pada pasien transplantasi tidak dapat begitu saja diasumsikan sebagai dosis yang tepat untuk memodulasi penuaan pada orang sehat. Bahkan mungkin efek terhadap mTORC1 dan mTORC2, penggunaan kontinu dibandingkan intermiten, usia pasien, kondisi metabolik, serta paparan obat akan menghasilkan profil manfaat-risiko yang berbeda.

      Karena itu, penggunaan rapamycin untuk tujuan anti-aging pada manusia sehat masih merupakan penggunaan yang belum terbukti manfaat klinis jangka panjangnya, bukan terapi standar untuk memperpanjang umur(6,7).

Dapatkah Penuaan Suatu Hari “Diobati”?

      Pertanyaan ini membawa kita pada bidang yang berkembang pesat bernama geroscience. Geroscience tidak semata-mata mencari cara agar manusia mencapai usia setinggi mungkin. Gagasannya adalah bahwa banyak penyakit kronis, penyakit kardiovaskular, kanker, gangguan neurodegeneratif, dan berbagai penyakit metabolic meningkat tajam seiring bertambahnya usia. Jika mekanisme biologis yang mendasari proses penuaan dapat dimodulasi, mungkinkah kemunculan beberapa penyakit terkait usia dapat ditunda secara bersamaan? Di sinilah mTOR dan rapamycin menjadi sangat menarik.

      Tujuan akhirnya bukan sekadar memperpanjang lifespan, tetapi memperpanjang healthspan: masa kehidupan ketika seseorang tetap sehat, berfungsi baik, dan bebas dari penyakit atau disabilitas berat. Rapamycin memberikan salah satu bukti eksperimental paling menarik bahwa jalur biologis yang berhubungan dengan penuaan dapat dimodulasi secara farmakologis. Tetapi jarak antara penemuan tersebut dan obat anti-aging yang terbukti aman serta efektif bagi manusia masih cukup panjang.

Kesimpulan

      mTOR menunjukkan bahwa sel memiliki sistem yang sangat kompleks untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan pemeliharaan. Ketika aktivitas mTORC1 berkurang, berbagai proses pemeliharaan sel, termasuk autophagy, dapat meningkat. Rapamycin menarik perhatian karena menghambat jalur mTOR dan secara konsisten dapat memperpanjang umur pada sejumlah model hewan, termasuk tikus. Namun evidence pada manusia saat ini baru menunjukkan beberapa perubahan fisiologis yang menjanjikan dan belum membuktikan bahwa rapamycin memperlambat penuaan atau memperpanjang umur manusia sehat. Karena profil efek samping dan interaksinya, rapamycin tidak seharusnya dipandang sebagai obat “awet muda” untuk digunakan sendiri. Untuk saat ini, ia lebih tepat disebut salah satu kandidat farmakologis paling menarik dalam penelitian geroscience.

Baca juga artikel:

1.     Makan Lebih Sedikit Dapat Membuat Umur Lebih Panjang? Memahami Sains di Balik Pembatasan Kalori

2.     Puasa Memicu Autophagy: Benarkah Tubuh Melakukan “Pembersihan Sel” Saat Kita Tidak Makan?

Daftar Pustaka

1.     López-Otín C, Blasco MA, Partridge L, Serrano M, Kroemer G. Hallmarks of aging: An expanding universe. Cell. 2023;186(2):243–278. doi:10.1016/j.cell.2022.11.001.

2.     Harrison DE, Strong R, Sharp ZD, et al. Rapamycin fed late in life extends lifespan in genetically heterogeneous mice. Nature. 2009;460(7253):392–395. doi:10.1038/nature08221.

3.     Sehgal SN. Sirolimus: its discovery, biological properties, and mechanism of action. Transplant Proc. 2003;35(3 Suppl):7S–14S. doi:10.1016/S0041-1345(03)00211-2.

4.     US Food and Drug Administration. Rapamune (sirolimus): Prescribing Information. Silver Spring, MD: FDA.

5.     Mannick JB, Morris M, Hockey HUP, et al. TORC1 inhibition enhances immune function and reduces infections in the elderly. Sci Transl Med. 2018;10(449):eaaq1564. doi:10.1126/scitranslmed.aaq1564.

6.     Lee DJW, Hodzic Kuerec A, Maier AB. Targeting ageing with rapamycin and its derivatives in humans: a systematic review. Lancet Healthy Longev. 2024;5(2):e152–e162. doi:10.1016/S2666-7568(23)00258-1.

7.     Hands JM, Lustgarten MS, Frame LA, Rosen B. What is the clinical evidence to support off-label rapamycin therapy in healthy adults? Aging (Albany NY). 2025;17(8):2079–2088. doi:10.18632/aging.206300.

Sumber inspirasi: Attia P, Gifford B. Outlive: The Science and Art of Longevity. New York: Harmony; 2023.