"Dari menyalahkan kopi hingga menghentikan obat sendiri, lima kesalahan ini masih sering dilakukan dan dapat meningkatkan risiko stroke, gagal ginjal,..."
5 Kesalahan Utama dalam Mengelola Hipertensi yang Masih Sering Dilakukan
Pendahuluan
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia. Organisasi kesehatan global memperkirakan lebih dari satu miliar orang hidup dengan hipertensi, dan sebagian besar kasus terjadi tanpa gejala yang jelas. Meskipun pengobatan hipertensi saat ini semakin baik dan mudah diakses, komplikasi akibat hipertensi masih menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Hal ini terjadi karena hipertensi merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit serius seperti:
- stroke,
- penyakit jantung koroner,
- gagal jantung,
- gagal ginjal,
- dan gangguan pembuluh darah lainnya.
Yang menarik, banyak komplikasi hipertensi sebenarnya dapat dicegah. Namun dalam praktik sehari-hari masih ditemukan berbagai kesalahpahaman yang membuat tekanan darah tidak terkontrol dengan baik.
Dalam seri artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa miskonsepsi yang sering ditemui di masyarakat. Pada artikel ini, mari kita rangkum lima kesalahan terbesar dalam mengelola hipertensi yang masih sering dilakukan.
Kesalahan 1: Menganggap Kopi Sebagai Penyebab Utama Hipertensi
Salah satu mitos yang paling sering ditemukan adalah anggapan bahwa kopi merupakan penyebab utama tekanan darah tinggi. Tidak sedikit orang yang berkata: "Saya darah tinggi karena terlalu sering minum kopi." Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Memang benar bahwa kafein dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara setelah dikonsumsi. Namun peningkatan tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak selalu menyebabkan hipertensi kronik.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat bukan merupakan penyebab utama hipertensi pada sebagian besar orang. Masalahnya, fokus yang berlebihan pada kopi sering membuat masyarakat mengabaikan faktor risiko yang jauh lebih penting, seperti:
- obesitas,
- konsumsi garam berlebihan,
- merokok,
- kurang aktivitas fisik,
- stres kronis,
- dan pola makan yang tidak sehat.
Akibatnya, seseorang mungkin berhenti minum kopi tetapi tetap mengalami hipertensi karena faktor risiko utama tidak diperbaiki.
Karena itu, jika ingin memahami hubungan kopi dan tekanan darah secara lebih mendalam, silakan membaca artikel pertama dalam seri ini: "Benarkah Kopi Bisa Menyebabkan Tekanan Darah Naik?"
Kesalahan 2: Menganggap Hipertensi Pasti Menyebabkan Pusing
Kesalahan kedua mungkin merupakan miskonsepsi paling berbahaya. Banyak orang beranggapan: "Kalau saya tidak pusing berarti tekanan darah saya normal." Atau sebaliknya: "Kalau saya pusing berarti tekanan darah saya sedang tinggi." Padahal kedua anggapan tersebut tidak selalu benar.
Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun.
Seseorang dapat memiliki tekanan darah 170/100 mmHg atau bahkan lebih tinggi tanpa merasakan keluhan yang berarti. Sebaliknya, keluhan pusing dapat disebabkan oleh banyak hal lain, seperti:
- kurang tidur,
- migrain,
- vertigo,
- anemia,
- dehidrasi,
- stres,
- atau gangguan keseimbangan.
Artinya, gejala bukanlah cara yang akurat untuk menilai tekanan darah.
Satu-satunya cara mengetahui tekanan darah adalah dengan mengukurnya menggunakan alat yang valid.
Karena itulah banyak penderita hipertensi baru mengetahui penyakitnya setelah mengalami komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung. Pembahasan lebih lengkap dapat ditemukan pada artikel yang berjudul: "Mengapa Hipertensi Disebut Silent Killer?"
Kesalahan 3: Minum Obat Hanya Saat Ada Keluhan
Kesalahan berikutnya sering ditemui pada pasien yang sudah mendapatkan diagnosis hipertensi.
Tidak sedikit pasien yang berkata: "Saya minum obat kalau pusing saja." Sekilas cara ini tampak masuk akal. Namun secara medis pendekatan tersebut tidak tepat. Hipertensi merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Tujuan pengobatan hipertensi bukan sekadar menghilangkan gejala, melainkan:
- mencegah stroke,
- melindungi ginjal,
- menjaga fungsi jantung,
- mengurangi risiko kematian dini.
Masalahnya, sebagian besar penderita hipertensi memang tidak mengalami gejala. Jika obat hanya diminum saat pusing, maka tekanan darah dapat tetap tinggi selama berbulan-bulan tanpa disadari. Keadaan ini menyebabkan kerusakan organ berlangsung secara diam-diam. Karena itu obat antihipertensi harus diminum sesuai jadwal yang ditentukan tenaga kesehatan, bukan berdasarkan ada atau tidaknya keluhan. Pembahasan lebih lengkap tersedia pada artikel yang lain berjudul: "Obat Hipertensi Hanya Diminum Saat Pusing?"
Kesalahan 4: Menghentikan Obat Ketika Tekanan Darah Sudah Normal
Ini mungkin merupakan kesalahan yang paling sering dilakukan setelah pasien mulai menjalani terapi. Skenarionya hampir selalu sama. Pasien rutin minum obat selama beberapa bulan. Saat kontrol, tekanan darahnya menunjukkan angka normal. Kemudian pasien berpikir: "Karena tekanan darah saya sudah normal, berarti saya sudah sembuh." Lalu obat dihentikan sendiri.
Padahal dalam banyak kasus, tekanan darah menjadi normal justru karena obat bekerja dengan baik. Ibarat seseorang menggunakan payung saat hujan. Tubuh tetap kering karena ada payung yang melindungi. Menutup payung tidak akan menghentikan hujan. Demikian pula menghentikan obat tidak berarti hipertensi telah hilang. Pada sebagian pasien, penghentian obat secara sepihak dapat menyebabkan tekanan darah kembali meningkat dan meningkatkan risiko:
- stroke,
- serangan jantung,
- gagal ginjal,
- dan berbagai komplikasi lainnya.
Keputusan untuk mengurangi atau menghentikan terapi harus dilakukan berdasarkan evaluasi dokter, bukan berdasarkan perasaan atau hasil pengukuran sesaat.
Pembahasan lebih lengkap dapat dibaca pada artikel berjudul yang sudah dipublikasikan terdahulu berjudul: "Tekanan Darah Sudah Normal, Bolehkah Obat Dihentikan?"
Kesalahan 5: Jarang Mengukur Tekanan Darah
Kesalahan terakhir mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Banyak orang tidak pernah mengukur tekanan darah kecuali ketika sakit. Padahal hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala. Akibatnya, tekanan darah tinggi dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa diketahui. Inilah alasan mengapa banyak pasien pertama kali mengetahui dirinya hipertensi setelah mengalami:
- stroke,
- gagal jantung,
- serangan jantung,
- atau gagal ginjal.
Mengapa Skrining Penting?
Skrining bertujuan menemukan hipertensi sebelum komplikasi terjadi. Pemeriksaan tekanan darah:
- cepat,
- murah,
- mudah dilakukan,
- dan tersedia hampir di semua fasilitas kesehatan.
Organisasi kesehatan internasional menganjurkan pemeriksaan tekanan darah secara berkala terutama pada:
- usia di atas 40 tahun,
- individu dengan riwayat keluarga hipertensi,
- penderita diabetes,
- perokok,
- individu dengan obesitas.
Prinsip yang perlu diingat sangat sederhana: Tekanan darah yang tidak pernah diukur adalah tekanan darah yang tidak diketahui. Dan hipertensi yang tidak diketahui adalah hipertensi yang tidak dapat dikendalikan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Untuk membantu menjaga tekanan darah tetap terkontrol, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:
1. Periksa tekanan darah secara berkala, jangan menunggu munculnya gejala.
2. Minum obat sesuai anjuran, bukan berdasarkan rasa pusing atau tidak.
3. Jangan menghentikan obat sendiri, diskusikan setiap perubahan terapi dengan dokter.
4. Terapkan pola hidup sehat
- kurangi garam,
- jaga berat badan,
- rutin berolahraga,
- berhenti merokok,
- kelola stres.
5. Tingkatkan literasi Kesehatan, banyak kesalahan terjadi karena informasi yang tidak lengkap atau tidak akurat.
Penutup
Hipertensi bukan penyakit yang menakutkan karena gejalanya. Justru yang membuat hipertensi berbahaya adalah kemampuannya merusak tubuh secara perlahan dan diam-diam. Dalam seri artikel ini kita telah membahas lima miskonsepsi yang paling sering ditemukan:
1. Menganggap kopi sebagai penyebab utama hipertensi.
2. Menganggap hipertensi pasti menyebabkan pusing.
3. Minum obat hanya saat ada keluhan.
4. Menghentikan obat ketika tekanan darah sudah normal.
5. Jarang mengukur tekanan darah.
Kelima kesalahan tersebut tampak sederhana, tetapi dapat menyebabkan tekanan darah tidak terkendali dan meningkatkan risiko komplikasi serius. Pada akhirnya, pengelolaan hipertensi yang baik bukan hanya soal obat, tetapi juga soal pemahaman yang benar. Semakin baik pemahaman seseorang terhadap hipertensi, semakin besar peluangnya untuk terhindar dari stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal di kemudian hari. Karena itu, pesan utama dari seluruh seri ini adalah: Hipertensi bukan penyakit yang menakutkan karena gejalanya, tetapi karena kerusakan yang ditimbulkannya secara diam-diam.
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Hypertension Fact Sheet. Geneva: WHO.
2. International Society of Hypertension. 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines.
3. Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, et al. 2017 ACC/AHA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. Hypertension. 2018.
4. American Heart Association. High Blood Pressure: Causes, Risks and Management.
5. Burnier M, Egan BM. Adherence in Hypertension: A Review of Prevalence, Risk Factors, Impact, and Management. Circulation Research. 2019.
6. Mills KT, Stefanescu A, He J. The Global Epidemiology of Hypertension. Nature Reviews Nephrology. 2020.